Home / Aktivitas Agung / Turino Chapter

Turino Chapter

Agung Kurniawan, Direktur Artistik KKF, diundang sebagai kurator dari Proyek “Focus on Indonesia” yang merupakan salah satu dari rangkaian kegiatan “The International Fair of Contemporary Art in Turin”, bertempat di Museum Sinema Nasional di Turin, Italia; pada 6 – 9 November 2008 lalu. Tulisan ini merupakan makalah yang dia presentasikan berkenaan dengan program tersebut.

Turino Chapter

Sebagai sebuah negara dengan tingkat penghasilan rendah bisa jadi Indonesia adalah sebuah negara dengan tingkat kepemilikan Televisi tertinggi di dunia. TV selalu ditempatkan di ruang keluarga. Ditempatkan di atas sebuah meja atau buffet kemudian di atasnya diletakan penutup kain yang berguna untuk menghindari debu masuk ke dalam TV, sekaligus berfungsi sebagai hiasan. Dan kain itu biasanya berupa kain batik atau sulaman berenda. Seringkali di atasnya ditempatkan boneka, foto keluarga, atau pernik hiasan lainnya. Sebuah benda yang dimuliakan. Pada keluarga menengah bawah, TV tetap ditempatkan pada bagian penting rumah. Bisa jadi di ruang utama, yaitu ruang tamu dan sesekali bisa menjadi ruang makan dan ruang tidur dengan menggeser kursi dan kemudian menggelar karpet di atas lantai semen. Posisinya tetap, pada titik terpenting dari sebuah rumah. Menjadi semacam lampu tanda kehidupan, kalau ia hidup berarti masih ada anggota keluarga yang terjaga. Sekaligus juga di era Fasisme Suharto TV berfungsi sebagai alat kontrol negara. Dimana semua pesan dan propaganda di siarkan, hingga ruang keluarga kami.

TV masuk ke Indonesia pada akhir tahun 60 an. Ketika itu Indonesia menjadi tuan rumah Asian games. Untuk keperluan itu maka dibangun stadion sepak bola terbesar di Asia dengan kapasitas 100.000 penonton (stadion itu hanya sekali terisi penuh ketika pertandingan sepak bola antara Korea Utara dan kesebelasan nasional Indonesia di awal 70-an) dan juga dibangunnya stasiun TV milik pemerintah pertama. Sejak saat itu TV menjadi ikon baru, perlahan menggeser radio dan kehidupan social di luar rumah. Sebagai contoh, di awal tahun 70-an keluarga saya adalah salah satu pemilik TV pertama di kota kecil di bagian timur pulau jawa. Setiap pemutaran film Amerika, semisal Rin Tin Tin dan lone Ranger rumah kami dipenuhi tetangga yang ingin menonton film itu. Semacam bioskop dadakan. Dan itu berlangsung bertahun-tahun sampai masing-masing dari tetangga kami kemudian mampu membeli TV sendiri.

Dari benda kotak bercahaya inilah animasi dikenalkan. Setiap sore film kartun amerika dan jepang mengisi dari menit ke menit dengan selingan iklan tiada henti. Animasi adalah sarapan pagi bersama dengan nasi goreng dan telur mata sapi. Setiap generasi seniman di Indonesia yang dilahirkan pada awal 60 an sampai sekarang selalu mempunyai tokoh animasi idola masing-masing. Dari situ saya kira perkenalan dengan animasi mulai di pupuk.

Seni rupa Indonesia

Seni rupa Indonesia belakangan ini tengah didominasi oleh seni lukis. Ini semua adalah imbas dari boom seni lukis sejak 5 tahun terakhir ini.  Lukisan tiba-tiba ada di mana-mana. Pelukis yang sudah pensiun sekalipun tiba-tiba kembali melukis dan mencoba peruntungannya kembali. Boom ini selain memberi nilai tambah ekonomi bagi seniman dan infrastuktur seni yang melingkupinya (Frame maker, art material industri, gallery, artisan, etc) juga membawa dampak buruk yaitu: homogenisasi. Setiap seniman saling berlomba-lomba untuk melukis dengan gaya dianggap sedang trend yaitu realisme pop atau yang dikenal juga dengan China Style.

Gejala copy cat-ism ini bisa mudah dimengerti oleh karena latar belakang ekonmi dari para seniman itu sendiri. Sebagian besar terutama yang berasal dari yogyakarta berasal dari kelas menegah ke bawah. Menjadi pelukis dan kemudian kaya, adalah sebuah lompatan sosial yang drastis. Oleh karena itulah mereka mau melakukan apapun untuk itu. Pun begitu pasar seni rupa yang tidak rasional ini mau membeli apa saja.

Homogenisasi itu menyebabkan tema dan media yang dipakai dalam seni rupa Indonesia sangat seragam. Bukan hanya itu saja selera komunitas seni rupa di Indonesia kemudian tidak lagi diatur oleh kurator atau art kritik akan tetapi diatur oleh para pedagang seni yang ramai-ramai mencari untung jangka pendek. Dengan memanfaatkan balai lelang yang tumbuh bak jamur di musim hujan, mereka mengontrol harga dan kemudian selera seni. Para kurator dan art kritik berubah menjadi sales representatif atau humas komersial gallery.

Pada situasi seperti inilah animasi sebagai sebuah media yang selalu dianggap inferior mengambil peran. Animasi menawarkan situasi yang “anti pasar”. Hal itu dapat dilihat dari berbagai tema yang diangkat dalam animasi dalam pameran ini. Keragaman tema secara langsung menyiratkan bebasnya medium ini dari cengkraman pasar senirupa Indonesia yang sangat dominatif.

Ada tiga generasi seniman yang ikut dalam pameran ini. Generasi 80-an, yang diwakili oleh Iarahmaiani dan agus Suwage, generasi 90-an yang diwakili oleh Popok Try Wahyudi, generasi 2000 an yang diwakili oleh Terra Brajghossa, eko Nugroho, Indie Guerillias, dan Marzuki dan generasi 2000 akhir yang diwakili Yudha Sandy.

Pada generasi 80-an; Agus suwage dan iarahmaiani, animasi mereka dilandasi dengan narasi yang kuat. Kecenderungan itu mewakili jamannya. Pada era itu seni “berfungsi” sebagai alat untuk menyuarakan gagasan, pikiran yang tertindas, dan juga sebagai kritik social.. Oleh karena itulah karya-karya yang muncul sering kali dilandasi atas semangat untuk melawan. Karya-karya bertema ini terasa sangat kontekstual di jamannya. Perubahan politik meyebabkan karya-karya itu bergeser dari alat politik menjadi barang dagangan. Sebagian besar seniman yang mempraktikan seni jenis itu sekarang telah berubah. sebagian membuat karya yang lebih cantik, politis tapi cantik. Sebagian lagi aktif dalam kerja seni yang lebih down to earth, dan sebagian kecil lainnya frustasi kemudian menjadi aktifis LSM.

Pada Generasi sesudahnya, generasi 90-an, politik tidak lagi disikapi secara hitam putih. Perubahan politik yang diharapkan para seniman angkatan 80-an dapat mengubah Indonesia menjadi lebih baik ternyata tidak terjadi. Memang demokratisasi terjadi akan tetapi perubahan yang dapat dirasakan oleh orang kebanyakan tidak terjadi. Seniman angkatan 90–an mewakili seniman yang apatis dengan politik. Mereka sadar seni tidak dapat mengubah apa-apa, untuk itu mereka mencari akar persoalannya lebih ke dalam. Katastropi ini tidak disebabkan oleh (hanya) sebab-sebab dari luar akan tetapi lebih kepada persoalan manusianya itu sendiri. Jadi mereka banyak melakukan self kritik terhadap seni, seniman dan karya seni mereka sendiri. Karya Popok Try wahyudi dan Marzuki saya kira mewakili salah satu kecenderungan pola pikir itu.

Pada generasi berikutnya, Yang dalam proyek ini diwakili oleh; Eko Nugroho, Terra Brajaghosa, dan Indie Guerellias mempunyai cara pandang yang berbeda. Politik seni dan politik secara keseluruhan tidak menarik perhatian mereka. Mereka besar pada saat seni rupa telah kehilangan kuasa politiknya. Mereka menjadi mapan pada saat seni popular, lewat musik, seni rupa dan fashion saling berkait. Hampir semua seniman yang membuat animasi disini adalah Sunday musician, atau semi professional musisi selain itu mereka juga membuat merchandise yang mereka jual di toko-toko fashion lokal. Karya mereka adalah bentuk dari elaborasi musik-rupa. Musik dan animasinya adalah satu kesatuan, semacam video klip yang dilakukan secara anti komersial. Dengan cara ini mereka secara tidak sadar tengah menunjukkan (juga) haluan politiknya; don’t care what ever you care.

Mereka adalah bagian dari rombongan besar anak-anak muda Indonesia yang apolitis sebagai bagian dari frustasi dari perubahan politik yang tidak menuju ke mana-mana. Menjadi seniman adalah cara yang legal untuk bersikap apatis dan apolitis.

Yudha sandy adalah generasi termuda, baru saja lulus dari sekolah seni di Yogyakarta dan belum sepenuhnya terjun menjadi seniman professional. Dia adalah seorang komikus yang banyak membuat komik dengan media foto kopi dan cetak sederhana. Sebagai seniman belum mapan, semata-mata karena pilihan medianya; komik dan animasi. Seandainya dia melukis di atas kanvas bisa jadi persoalannya menjadi lain. Sandy adalah bagian dari generasi baru seniman muda di Indonesia yang tumbuh di saat menjadi perupa adalah mudah: It is easy to became artist, what you need only paint, brushes and canvas.
Sandy mumilih jalan yang tidak mudah komik dan animasinya akan membawanya ke jalur berbeda dengan teman-teman seangkatannya yang sibuk berpendar dari satu art fair ke art fair lainnya .

About kedai kebun

Check Also

Actus Contritionis, Citraan Bayang-bayang Ingatan

Sumber: http://umahseni.com Umah Seni, Jakarta, pembukaan pameran 5 Mei 2012 — Karya-karya teralis atau kisi-kisi …

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *