Home / KKF STYLE / Persembahan Dialita untuk Generasi Muda

Persembahan Dialita untuk Generasi Muda

dialita-1-oktober-2016-foto-oleh-anom-sugiswoto45

Foto oleh Anom Sugiswoto

Tanggal 1 Oktober 2016 adalah hari yang penting bagi kelompok paduan suara Dialita. Pada hari itu mereka meluncurkan album yang berjudul “Dunia Milik Kita” di bawah Beringin Soekarno, Universitas Sanata Dharma, Yogyakarta. Album tersebut berisikan 10 lagu, diproduksi oleh label musik digital Yes No Wave Music dan Indonesian Visual Art Archive (IVAA). Kehadiran album Dialita tentu saja didukung oleh berbagai pihak. Bermula dari Woto Wibowo, alias Wok The Rock, alias Wowok, yang melihat penampilan Dialita untuk pertama kalinya pada saat pembukaan Biennale Jogja XIII di akhir tahun 2014. Wowok, yang pada waktu itu menjabat sebagai kurator BJ XIII, sangat tertarik dengan kelompok paduan suara yang beranggotakan para ibu penyintas dan keluarga penyintas peristiwa 1965 tersebut. Gayung bersambut, setelah mengetahui dari Irawati Atmosukarto (Ira), selaku manager Dialita,  yang memang sedang menginginkan untuk membuat album. Dari situlah Wowok bermauan untuk membantunya. Wowok dengan Yes No Wave-nya memang sudah banyak merilis album para musisi yang bergerak di jalur independepen secara digital melalui situsnya yesnowave.com.

Ira mengungkapkan bawah awal mulanya ibu-ibu Dialita ingin rekaman live saja di studio rumahan karena keterbatasan dana. Akan sangat disayangkan apabila hal itu terjadi. Wowok kemudian membentuk tim kecil dengan Agung Kurniawan (Direktur Artistik Kedai Kebun Forum) sebagai produser eksekutif, Venti Wijayanti sebagai manajer produksi, dan Adi Adriandi sebagai asisten produser. Tidak cukup disitu, Wowok sebagai produser musik, kemudian menggaet beberapa musisi muda, diantaranya Frau, Cholil Mahmud, Sisir Tanah, Lintang Radittya, Kroncongan Agawe Santosa, Prihatmoko Moki dan Nadya Hatta. Musisi-musisi muda tersebut bertugas mengiringi paduan suara Dialita sekaligus mengaransemen lagu-lagu untuk album “Dunia Milik Kita”.

Frau, adalah nama panggung Leilani Hermiasih atau Lani, yang sangat piawai dalam memainkan Oskar, piano kesayangannya. Aransemen musiknya untuk Dialita dapat didengarkan di lagu berjudul “Ujian”. Musiknya yang kelam dan mendayu berhasil membuat suasana lagu gubahan ibu Jus Djubariah tersebut terdengar haru. Pada awalnya, ibu-ibu Dialita kesulitan dengan aransemen dari Lani tersebut karena memang tidak terbiasa dengan aransemen anak muda. Namun sekarang, kalian bisa mendengarkan alunan syahdu lagu “Ujian” di track pertama album “Dunia Milik Kita”. Selain lagu “Ujian”, Lani juga turut mengaransemen lagu “Di Kaki-Kaki Tangkuban Perahu”, dan “Kupandang Langit” bersama musisi muda lainnya.

Ada sosok Cholil Mahmud, adalah vokalis grup musik indie Efek Rumah Kaca yang berasal dari Jakarta. Pertimbangan Wowok untuk mengajak Cholil adalah karena dia ingin ada nuansa Indie Art Wedding dalam aransemennya. Indie Art Wedding adalah proyek album yang berisi lagu-lagu berirama manis garapan Cholil dan istrinya sebagai souvenir pernikahan mereka. Di album “Dunia Milik Kita”, aransemen manis dari Cholil untuk Dialita dapat didengarkan di lagu “Salam Harapan” dan lagu “Lagu untuk Anakku”.  Bersama Lintang Radittya, Cholil juga mengaransemen lagu “Dunia Milik Kita”. Namun sayang, Cholil tidak bisa hadir mengiringi Dialita di konser peluncuran album awal Oktober kemarin karena saat ini dia sudah berdomisili di New York, Amerika Serikat.

Kepiawaian Lintang Radittya dalam menciptakan bebunyian dari instrumen elektronik synthesizer tentu saja membuat Wowok tertarik untuk melibatkannya dalam pembuatan album Dialita. Keindahan bebunyian ciptaannya dapat didengarkan di lagu “Di Kaki-Kaki Tangkuban Perahu”, “Kupandang Langit”, “Dunia Milik Kita”dan “Asia Afrika Bersatu”.

Di lagu “Padi untuk India” dan “Viva Ganefo” kita akan mendengarkan alunan gitar akustik yang merdu. Dibalik kedua lagu tersebut, kita mengenal Sisir Tanah, adalah grup musik folk dengan lagu-lagunya yang puitis. Sisir Tanah mempersembahkan dua aransemen untuk album Dialita.

Tidak cukup disitu, Wowok sangat optimis untuk menghadirkan sosok Nadya Hatta agar mendapatkan nuansa mars yang post rock di lagu “Asia Afrika Bersatu”. Bersama dengan Prihatmoko Moki di perkusi dan Lintang Radittya di elektronik, mereka berhasil membuat lagu tersebut terdengar bersemangat. Tentu saja dentingan piano Nadya menambah indah lagu tersebut.

Kemudian Wowok mengajak kelompok keroncong yang digawangi oleh Erie Setiawan, yaitu Kroncongan Agawe Santosa. Dengan alat musik mereka yang tidak sederhana, kelompok musik tersebut mampu menghadirkan keindahan irama keroncong di lagu “Taman Bunga Plantungan”.

Album Dialita “Dunia Milik Kita” merupakan penanda bahwa lagu-lagu bisu yang awalnya tidak boleh dinyanyikan, kini bisa dinikmati dengan bebas oleh publik. Dalam lagu-lagu tersebut, terkandung kesedihan, harapan, dan keinginan dari ibu-ibu Dialita yang ingin didengar oleh generasi muda. Diharapkan lagu-lagu tersebut memberi motivasi dan semangat, seperti yang dirasakan ibu-ibu Dialita ketika menyanyikannya. Sejak 17 Agustus 2016, album Dialita dapat diunduh secara gratis di situs Yes No Wave Music. Rilisan dalam format cakram padat (CD) oleh Cakrawala Records bisa diperoleh di Kedai Kebun Forum. (Uniph Kahfi)

About kedai kebun

Check Also

Latihan Dialita di Aula KKF

Foto: Dok. KKF Dua hari itu aula Kedai Kebun Forum (KKF), yang terletak di lantai …

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *