Home / Aktivitas Agung / Performa Otomat

Performa Otomat

Pergeseran medium dari gambar ke performans dalam karya Agung, meskipun telah terasa semenjak tahun 2009, semakin berkembang sejalan dengan perkembangan narasi karyanya. Kegiatan performatif Agung juga tidak selazim karya-karya seniman performans lainnya, namun selalu melibatkan hampir seluruh penonton karyanya untuk terlibat secara aktif, maupun bila menghendaki, pasif. Karya performans agung menjadi otomat, mesin yang dapat bergerak dan bekerja sendiri, ketika penonton kadang tidak sadar telah terlibat dan menjadi bagian dari karyanya hingga dapat merasakan tema dan tawaran Agung secara lebih mendalam.

proses performans

Masya Allah Transgenik
Courtesy of Biennale Jogja XII

proses performans (1)

Masya Allah Transgenik
Courtesy of Biennale Jogja XII

Masya Allah Transgenik
Sumber video: arsip IVAA di youtube

Salah satu karya performansnya digarap tahun 2013, ketika diundang menjadi seniman dari pameran Jogja Biennale XII di Yogyakarta. Karya berjudul “Masya Allah Transgenic” menghadirkan sebuah aktivitas menyerupai kenduren, lengkap dengan masakan nasi kuning lengkap yang ditata berbentuk peta wilayah Indonesia di atas meja berwarna biru. Agung juga mengundang dua aktor, untuk mengendong boneka berpeci dan membaca sebuah gubahan pidato Sukarno tahun 1952 mengenai kemandirian pangan di depan peta nasi kuning tersebut. Agung juga menyelipkan sebuah proses mistifikasi dalam karyanya saat sang aktor diminta membaca-lagukan pidato dengan gaya pembacaan doa ala pengajian islami dan liturgi gereja; seluruh penonton juga diminta untuk membaca bersama-sama sebagian dari naskah, dan mengamini pidato sang aktor di beberapa bagian.
Isu utama yang ditawarkan Agung dalam karya tersebut tidak lain mengenai masalah keberdayaan pangan Indonesia yang lemah: ancaman akan bahaya kelaparan dan kenaikan harga bahan pokok, yang merupakan imbas dari ketidakbecusan penanganan sumber daya pangan. Agung mengakhiri performansnya dengan mengundang seluruh hadirin untuk menikmati sajian nasi kuning bersama-sama layaknya dalam kenduren, dan sedikit demi sedikit nasi kuning tersebut diambil dari meja, semakin terlihat gambar berpola peta indonesia di bawahnya, yang di masing-masing pulaunya tertera nama-nama dari perusahaan besar seperti Monsanto, Bayer, dll, yang disinyalir terlibat dalam ketidakbecusan sistem penanganan sumber daya di Indonesia. Karya ini menjadi sebuah pernyataan sekaligus propaganda dari Agung untuk menimbang kembali produk-produk pangan dan non-pangan yang kita gunakan, merunut muasalnya, dan imbas yang terjadi karenanya.

Peristiwa partisipatoris memang menarik karena kehadiran bahkan keterlibatan fisik dari penonton dalam karya akan memberikan sensasi tersendiri untuk menerima dan memaknai karya Agung dengan cara yang berbeda, layaknya sebuah pertunjukkan teater. Pada Mei 2015, Agung kembali menggunakan modus ini untuk menyampaikan karya barunya yang mencoba menghadirkan projek gladi resik atas gladi resik peristiwa kematiannya yang berjudul “Proyek Peristiwa Teater: Hanya Kematian yang Setia Menunggu” di Auditorium IFI Yogyakarta. Dalam karya teaternya ini, Agung Kurniawan menyilakan hadirin pertunjukannya untuk mengubah perspektif tentang ketakutan dan kesedihan akan kematian serta kehilangan: menghadapi kematian dengan cara yang wajar, akrab layaknya peristiwa harian yang dihadapi manusia.

Di pertunjukan tersebut, ia juga mengundang penampil lain untuk mendukung aksinya, dari penyanyi cum keyboardist, sastrawan, sutradara, hingga perupa dan fotografer yang semuanya melagukan atau mempersembahkan kidung dan narasi tentang peristiwa kematian tersebut, layaknya rekuiem bagi Agung. Dalam teater ini, Agung mengarahkan para penonton untuk ikut membaca lirik dalam liturgi tersebut yang terdapat dalam buku berhimpun yang dibagikan, setelah dibacakan oleh beberapa performer utama. Dan diakhir pertunjukan, Agung memberikan 47 sketsa aslinya kepada para penonton secara acak. Sketsa aslinya tersebut merupakan beberapa citra awal atas seri karya teralisnya yang terbaru.

Apa yang dilakukan Agung dalam pertunjukkannya tersebut menghadirkan getaran pilu, namun dengan sebuah kejanggalan karena sengaja dipertunjukkan untuk memunculkan perasaan-perasaan tersebut yang biasanya muncul secara tidak sadar ketika mendapatkan kabar kematian atau mengikuti proses pemakaman relasi. Namun peristiwa ini juga menawarkan sebuah antisipasi emosi, dan sudut pandang baru akan prosesi kematian, yang dapat dipinjam dan diulangi oleh para penonton di kemudian hari.

Karya pertunjukan Agung Kurniawan yang paling baru, baru diselenggarakan pada Jakarta Biennale 2015 yang lalu di kota Jakarta, mengangkat tema mengenai fenomena moralitas dan seksualitas yang sedang berkembang di masyarakat. Karya yang diberi judul “Pelacur-pelacur Kota (Kecabulan Sebagai Pelumas Demokrasi)” masih memperlihatkan gaya partisipatoris yang juga intertekstual. Sebagai bagian dari karya, Agung meminjam puisi Rendra ‘Bersatulah Para Pelacur Kota Jakarta’, yang dianggapkan cermat namun secara getir membaca situasi seksualitas dan sosial Jakarta di tahun 60-70’an dan kini menemukan kembali posisinya.

proses performans (2)

Festival Seni Mencari Haryadi
Courtesy of Indonesian Visual Art Archive

proses performans (3)

Festival Seni Mencari Haryadi
Sumber: http://festivalsenimencariharyadi.blogspot.co.id

Festival Seni Mencari Haryadi
Sumber Video: arsip IVAA di youtube

Apa yang dilakukan Agung, dari perubahan format dan cara pandangnya atas medium, baik gambar maupun performans dan pergerakan temanya dari waktu ke waktu: kekerasan – sejarah – konstruksi ingatan, terlihat linear, namun tanpa disadari bahwa pergeseran ini tentunya juga diakibatkan oleh idenya akan pentingnya partisipasi publik baik dalam peristiwa sehari-hari maupun peristiwa artistik di saat ini. Agung yang sadar akan tema-tema karyanya yang cenderung mengangkat konteks sosial dan politis, tidak canggung untuk terlibat aktif dalam perayaan demokrasi di masyarakat secara langsung. Sebut saja sebuah projek yang diinisiasinya sebelumnya, “Festival Seni Mencari Haryadi”, di mana ia menggunakan media seni justru untuk menjadi saluran tampungan kritik warga kepada walikota Yogyakarta. Bentuk aktivitas politis yang artistik semacam ini justru menimbulkan dorongan yang positif, dan baginya, akan mencegah situasi yang destruktif, serta tidak semata-mata menjadi kemarahan atas ketidakpuasan yang mumuncak dan dapat menjadi pencapaian artistik milik bersama. (Sita Sarit)

About kedai kebun

Check Also

Actus Contritionis, Citraan Bayang-bayang Ingatan

Sumber: http://umahseni.com Umah Seni, Jakarta, pembukaan pameran 5 Mei 2012 — Karya-karya teralis atau kisi-kisi …

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *