Home / KKF ART / Pemutaran Film “Wir sitzen im Süden (Berlokasi di Selatan)” – German Film Club, Kerjasama KKF & Goethe Institut

Pemutaran Film “Wir sitzen im Süden (Berlokasi di Selatan)” – German Film Club, Kerjasama KKF & Goethe Institut

poster-wir-sitzen-im-suden-1-fileminimizer_resize-600

Pemutaran Film :
“Wir sitzen im Süden (Kami Berlokasi di Selatan)”
Kerjasama Kedai Kebun Forum (KKF) dengan Goethe Institut Jakarta

Rabu, 3 Juni 2015
Jam 19:00 WIB
Di Ruang Pertunjukan (Lt. 2) KKF
Terbuka untuk umum & GRATIS

SINOPSIS

WIR SITZEN IM SÜDEN (KAMI BERLOKASI DI SELATAN)

Sutradara: Martina Priessner, 2010, dokumenter, 88 menit, berbahasa Jerman dengan subtitle Bahasa Inggris

Empat orang asal Turki yang di besarkan di Jerman, sekarang bekerja di Istanbul di „Call-Center“ untuk perusahaan-perusahaan Jerman. Sepertinya hanya seorang saja yang dengan sukarela senang tinggal di Turki. Yang lainnya masih memimpikan untuk hidup di Jerman. Sebuah film mengenai identitas dan tanah air, bertentangan dengan keengganan stereotip untuk berintegrasi.

Di telepon mereka mengaku bernama Ralf Becker, Ilona Manske atau Sandra Baum, padahal sebenarnya mereka bernama Bülent Kubulu, Murat Demirel, Fatos Yildiz dan Cigdem Özdemir. Bahasa Jerman mereka sempurna, hanya Fatos Yildiz yang punya masalah: dia tidak dapat menghilangkan aksen Schwarzwald nya. Dan bila para pelanggan menanyakan di mana posisi kantor Call Center ini, maka jawabnya:”Kami ada di Selatan.” Martina Priessner mengamati ke empat protagonis ini dalam pekerjaan dan kehidupan pribadi mereka di Istanbul, dan dia juga mengikuti Fatos Yildiz dan Murat Demirel dalam perjalanan singkat mereka ke Jerman. Untuk sementara Bülent Kubulu tidak punya kesempatan kembali ke tanah yang dirindukannya; lelaki muda yang berasal dari dekat Frankfurt ini telah salah jalan dan di dorong ke Negara yang tidak terlalu dikenalnya. Ketika dia dapat pekerjaan di satu perusahaan Jerman, dia seperti tiba di satu oase:”Saya merasa sangat nyaman!” Fatos Yildiz yang mempunyai dua anak dan telah bercerai, setelah 20 tahun masih tetap merindukan tanah airnya yang lama; satu saat ayahnya pernah memastikan bahwa paspornya batal di cap. Dia selalu mencoba mendapatkan visa turis untuk ke Jerman, tetapi selalu tanpa hasil – sekarang akhirnya di terima juga permohonan visanya; dia tertawa dan menjerit karena sukacita dan menjelaskan:”Memang saya memiliki darah Turki, tetapi jiwa saya Jerman.” Murat Demirel juga merindukan tempat-tempat masa kecil dan remajanya – dan terlebih lagi sebagai seorang gay, Jerman lebih toleran daripada Turki. Hanya Cigdem Özdemir, yang merasa betah di Turki. Setelah bekerja beberapa lama di Call Center, dia mendirikan perusahaan sendiri. Dia tidak ingin membangun „pengganti Jerman.“

Martina Priessner menghapuskan semua komentar. Hal ini menuntut perhatian yang sigap dari penonton, terutama di awal cerita. Kritikus Jerman menyambut baik film ini. „Harus ditonton“ demikian komentar koran Süddeutsche Zeitung. taz menulis: „Jerman sebagai tanah yang dirindukan? Untuk orang Jerman Turki yang tinggal di Selatan, hal ini tidak biasa. Perspektif ini membuat film dokumenter Martina Priessner yang tenang dan puitis sedih ini, menjadi sangat berharga untuk ditonton. Majalah budaya ARD berkomentar: „Sementara para politisi tak pernah berhenti membicarakan para migran yang di tuduh tak mau berintegrasi, melalui film ini para petonton melihat, banyak orang Turki yang sejak lama sudah menjadi orang Jerman, tetapi tak boleh tinggal di Jerman … di sini kita melihat manusia yang tumbuh besar di antara kita, tetapi harus hidup di luar masyarakat kita.“

WIR SITZEN IM SÜDEN merupakan karya yang hati-hati, yang percaya pada para tokohnya dan tidak menempatkan mereka berada dalam satu konsep dramaturgis. Film ini juga bebas dari „pengajaran“ – dan justru karena itu merupakan satu sumbangan yang penting bagi debat mengenai masalah integrasi.

About kedai kebun

Check Also

Pameran Tunggal “Gombal” oleh Arwin Hidayat

“Gombal” Pameran Tunggal Arwin Hidayat Pengantar oleh Agung Kurniawan, Direktur Artistik KKF Mau tidak mau, …

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *