Home / KKF Event / Pemutaran Film “Schönefeld Boulevard” – German Film Club

Pemutaran Film “Schönefeld Boulevard” – German Film Club

German Film Club

Rabu, 5 April 2017, 19.00 WIB
Ruang Aula, Kedai Kebun Forum
Jl. Tirtodipuran 3, Yogyakarta
Terbuka untuk umum & gratis

mempersembahkan

Schönefeld Boulevard

Sutradara: Sylke Enders, 2013/14, berwarna, 102 menit
Pemain: Julia Jendroßek, Daniel Sträßer, Ramona Kunze-Libnow, Uwe Preuss, Jani Volanen, Kyra Sophia Kahre, Andrea Hintermaier, Yung Ngo

SINOPSIS

Cindy menjelang ujian akhir SMA. Ia tinggal bersama orangtuanya di dekat bandara Berlin Schönefeld yang pembangunannya terlambat sekian tahun dibandingkan rencana semula. Kehidupan Cindy pun menyerupai tempat pembangunan yang tidak kunjung selesai. Akibat kelebihan berat badan, Cindy sering menghadapi ejekan teman-teman sekelasnya, dan rasa percaya dirinya sangat rendah. Dia juga tidak mampu menghentikan candaan kasar kawannya Danny. Kemudian Cindy berkenalan dengan insinyur asal Finlandia dan ahli TI dari Korea yang bekerja di pembangunan bandara. Kehidupan dan kepribadiannya pun mulai berubah.

Tanah gersang: Hanya itu yang mula-mula terlihat dari bandara Berlin-Schönefeld. Cindy dan kawannya Danny bermain boneka di pagar – sebuah gambaran indah yang pada akhir film muncul kembali sebagai gambaran horor. Sepasang remaja yang tidak terlalu populer dan berteman meskipun tidak terlalu cocok satu sama lain. Danny berkata kepada Cindy bahwa orangtua Cindy pasti lebih suka anak pengelola gedung apartemen mereka dari dirinya, karena anak itu lahir mati. Dan merekapun mengambil anak anjing agar tidak terlalu terganggu oleh kehadiran Cindy yang buruk rupa. Danny sudah muak dengan keadaan. Ia masuk tentara Jerman dan berangkat ke Afganistan, tetapi malah semakin sinis ketika pulang dari sini. Ayah Cindy memberi julukan “pembom kismis” kepada putrinya yang kelebihan berat badan (julukan itu dulu diberikan kepada pesawat angkut AS yang memasok bahan makanan ke Berlin Barat semasa blokade). Pembangunan bandara baru telah tertunda bertahun-tahun, dan dengan demikian juga pembukaan hotel tempat Cindy hendak mengikuti pendidikan perhotelan setelah lulus SMA. Bahkan belum pasti bahwa gadis itu akan mampu melewati ujian akhir; terutama sang ayah selalu saja mematahkan semangat putrinya. Di sekolah, Cindy menjadi bulan-bulanan para siswi lainnya.

Sylke Enders mendapat ide untuk SCHÖNEFELD BOULEVARD di lokasi utama filmnya: “Banyak motel bandara, halte bus, beberapa remaja yang luntang-lantung. Dalam hati langsung terbayang anak perempuan berperawakan agak gemuk yang sedang menunggu di salah satu halte bus sambil membawa anjing. Gambaran itu lalu saya kaitkan dengan para tamu motel. Sama seperti anak perempuan itu, merekapun terjebak dalam ketergantungan, merasa bosan dan kesepian. Bagaimana kalau kedua dunia itu bertemu dan perjumpaan yang kebetulan itu memicu perubahan pada keduanya? Bagaimana kalau perempuan itu akhirnya tergerak untuk menantang diri sendiri, melihat dirinya dari sudut berbeda, dan melakukan sesuatu yang di luar dugaan orang lain?

Cindy pun akhirnya mengambil inisiatif. Ia mendatangi orang tidak dikenal di kamar hotelnya untuk mengembalikan ponselnya yang hilang. Insinyur asal Finlandia itupun sempat dibuat bingung. Tapi akhirnya mereka berpelukan mesra di sofa. Pada adegan yang diambil dari jarak dekat dan dalam gerak lambat itu terlihat sebuah kembang yang tengah mekar. Setelah itu menyapa ahli TI bernama Park dari Korea, dan dengan begitu berhasil mendapatkan pendamping untuk pesta kelulusan SMA.

SCHÖNEFELD BOULEVARD bercerita mengenai perjuangan mendapatkan rasa percaya diri yang diperlukan untuk hidup – dan mengenai bagaimana rasa percaya diri itu bisa hilang selamanya. Danny yang baru kembali dari tugas di Afganistan tidak sanggup menerima perubahan Cindy; ia semakin banyak mengonsumsi alkohol dan narkoba dan akhirnya tewas saat memacu mobilnya dengan kecepatan tinggi. Cindy putus asa, karena merasa bersalah atas kematian Danny. Adegan terakhir memperlihatkan menjauh di jalan yang sejajar dengan landasan pacu bandara. Ia berjalan tepat menyusuri garis, seperti Charlie Chaplin dalam MODERN TIMES dulu. Bedanya, Charlie Chaplin didampingi Paulette Goddard. Cindy seorang diri. Tapi untuk pertama kali dalam film ini terlihat pesawat lepas landas di latar belakang – sebuah simbol untuk kebangkitan.

Biografi

Sylke Enders lahir tahun 1965 di Brandenburg. Tahun 1983-1987 ia kuliah sosiologi. Tahun 1996 ia mulai mendalami penyutradaraan di Akademi Film dan Televisi Berlin (dffb), lalu menyelesaikan studinya pada tahun 2002.

Info lebih lanjut hubungi Uniph 0857-2580-9139

About kedai kebun

Check Also

Pementasan Teater “+51 Aviación, San Borja” – Okazaki Art Theatre

Okazaki Art Theatre +51 Aviación, San Borja Minggu, 10 September 2017, Pk.19.30 WIB* Senin, 11 …

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *