Home / KKF ART / Pemutaran Film “PEAK” – German Film Club, Kerjasama KKF & Goethe Institut

Pemutaran Film “PEAK” – German Film Club, Kerjasama KKF & Goethe Institut

Pemutaran Film :
PEAK”
Kerjasama Kedai Kebun Forum (KKF) dengan Goethe Institut Jakarta

Rabu, 3 September 2014
Jam 19:00 WIB
Di Ruang Pertunjukan (Lt. 2) KKF
Terbuka untuk umum & GRATIS

SINOPSIS

PEAK

Sutradara: Hannes Lang, 2010/11, 91 menit, dokumenter, berbahasa Jerman dengan subtitle Bahasa Inggris

Malam-malam bergemuruh bunyi konvoi traktor melewati salju, untuk mengoptimalkan jalur ski. Di ketinggian 3000 meter mesin keruk mengais-ais bumi dengan bantuan dinamit untuk membangun penampungan air guna memperluas salju buatan. Banyak apartemen tinggi dibangun – sementara itu anak-anak muda sudah lama terusir dari daerah itu dan beberapa pasang orang tua yang tersingkir mengatakan, bahwa tempat mereka tak mempunyai masa depan lagi. Dalam film PEAK ini Hannes Lang mengamati invasi dan pengambilalihan paksa, dengan cara ultimatum, pegunungan Alpen untuk pariwisata ski – dan memperlihatkan orang-orang yang terkena dampaknya: pemenang dan mereka yang kalah, yang antusias, yang skeptis dan yang terhilang.

Sebuah dataran tinggi dengan gunung bersalju. Sepasang penyanyi menyanyikan lagu mengenai kampung halaman mereka:“Dimana hutan diam-diam berisik…“ Ketenangan alam hanyalah ilusi. Di latar depan jejak-jejak pembangunan besar-besaran tampak jelas. Malam hari traktor-traktor meratakan jalur bermain ski. Di siang hari ledakan-ledakan dinamit merobek-robek ketenangan, sebuah helikopter melayang-layang di langit: Jauh di puncak di daerah Ötztal dibuat danau baru buat penampungan air; danau ini berfungsi mengalirkan air untuk “350 produsen-salju generasi baru“ – sampai 1200 liter per detik. Dimasa pemanasan global ini salju alami tidak lagi mencukupi untuk mempertahankan pariwisata ski secara masal.

Banyak daerah di pegunungan Alpen sangat bergantung pada olah raga ski komersil. Lama kelamaan musim olah raga ski dirasa kurang panjang, uang yang sudah diinvestasikan harus balik modal dan untuk memperpanjang musim dingin, orang membuka daerah gletser dengan menyediakan sarana kereta kabel dan lift untuk mengangkut pemain ski ke atas gunung. Tetapi sekarang gletsernya mencair sendiri, seolah-olah gletsernya ingin menarik diri dari alam yang sudah rusak. Proses cairnya gletser tak bisa ditahan, hanya bisa diperlambat; hal ini diketahui oleh para pekerja disana, dengan cara yang tak masuk akal, mereka menutupi gletser dengan kain putih raksasa yang bisa menahan panasnya matahari – tapi dibawah penutup itu proses alami tetap berjalan.”Dengan mimik minta maaf, seorang pekerja mengatakan bahwa kami sangat bergantung pada pariwisata“.

Sankt Gotthard dekat Rimella di Piemont yang terletak di Alpen Selatan merupakan satu wilayah tanpa pariwisata musim dingin yang penting, tapi daerah ini mempunyai masalah yang lain. Seorang petani tua sedang mengerjakan tanahnya yang membatu dengan sekop – ini juga pekerjaan yang sia-sia. Dia tahu, bahwa dia berjuang di pos yang kalah. Dulu di sana tinggal banyak orang, mereka, terutama anak-anak mudanya sudah pindah; mereka harus mencari kerja di tempat lain. Kerja sebagai petani terlalu berat buat mereka dan juga terlalu murah upahnya. Tetapi lelaki tua itu tidak putus asa; dia berkata, mungkin di masa-masa krisis mereka akan kembali. Seorang nenek juga mengeluh karena anak-anak muda menjadikan desa mereka hanya sebagai tempat berakhir pekan. Daerah itu menderita karena hanya dihuni oleh orang-orang tua yang tak berpengharapan. Seorang ibu bertanya:“Apa yang akan terjadi setelah kami tiada?“

Tempat ski Tignes (Savoyen) ialah pantai beton. Di tahun 50an, tempat yang lama ditelan oleh danau buatan, yang baru menjadi perumahan dengan hotel dan apartemen, menyedihkan, di musim panas menjadi kota mati, di musim dingin sangat padat. Seorang lelaki mengumpulkan sisa-sisa musim bermain ski yang lalu, pecahan-pecahan kaca dan sampah; dia bercerita, dia bahkan menemukan kompor gas, kasur dan ranjang yang dibuang dari jendela apartemen.

Di Pitztal, di ketinggian sekitar 3000 meter, terdapat sebuah pabrik, yang menghasilkan salju. Kemudi elektrik memungkinkan pabrik ini kerja 24 jam, hubungan online dengan pemasok di Israel termasuk dalam sistem ini. Tanpa bergantung pada temperatur dan cuaca mesin di pabrik ini dapat membuat salju bahkan sampai di suhu 30 derajat Celsius. Ahli salju buatan ini dengan bangga membawa kami keliling pabriknya dan dia sangat menentang para peneliti iklim dengan teori-teori mereka. Seperti jalanan desa, pita salju buatan meluncur ke bawah, melewati lumut berwarna coklat, pepohonan tandus dan karang-karang tak bersalju. Di Sölden orang merayakan peresmian kereta gantung yang baru. Yang memberi kata sambutan mengatakan:“Disinilah rumah semangat para perintis!“

PEAK merupakan jawaban puitis dan jujur terhadap gambaran pegunungan Alpen yang biasa ditampilkan televisi; tetapi film ini berdampak jauh melampaui hal itu. Keadaan bahaya dan perusakan yang diamati Hannes Lang terjadi juga di satu wilayah di Alpen yang dulunya merupakan tempat “salju abadi“. Di festival film dokumenter Leipzig bulan November 2011 film PEAK mendapat piala Goethe-Institut. “Yang menonjol dalam film ini ialah bahasa gambar yang mengesankan, yang dalam format sinemaskop menemukan ekspresi estetik yang sesuai. Tema universal mengenai perusakan alam melalui manusia diungkapkan kepada penonton dengan penuh ekspresi. Film ini berhasil mengungkapkannya tanpa menyalahkan siapa-siapa dan hanya melalui gambar yang memperlihatkan campur tangan industri terhadap alam yang sudah berusia berabad-abad. Perusakan pegunungan Alpen yang sistimatis dan hilangnya tanah air memutus secara radikal harapan film-film berlatar belakang daerah.“(Pernyataan juri)

Adegan terakhir memperlihatkan tiga wanita dalam pakaian daerah setempat: mereka bernyanyi dengan suara menggema sampai ke lembah. Musik yang hidup yang dulu sangat melekat erat dengan kehidupan manusia dan menguasai penduduk disana, sekarang hanya dipakai untuk berpose dan menjadi kesenian rakyat yang dimuseumkan dan hanya mendapat tempat di pertunjukan-pertunjukan televisi. Satu pernyataan sensitif terhadap akibat dari peralihan alam yang dipaksakan oleh komersialisasi dilontarkan oleh seorang petani tua dari Italia Utara:“Banyak yang rusak. Cinta dan kesakitan menghilang. Hanya sedikit yang tersisa. Selamatkan, siapapun yang dapat melakukannnya!“

About kedai kebun

Check Also

Pemutaran Film “Freistatt” – German Film Club

German Film Club Rabu, 1 Februari 2017, 19.00 WIB Ruang Aula, Kedai Kebun Forum Jl. …

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *