Home / Proyek Seni / Pameran “Proyek Seni Gondomanan”

Pameran “Proyek Seni Gondomanan”

PROYEK SENI GONDOMANAN

8 Juni s.d 10 November 2006

 

Inisiator dan Pimpinan Proyek      : Yustina W. Neni

Pengelola Proyek                             : Ratna Mufida

Fokus Area                                        : Gondomanan

Studio & Pameran                            : Kedai Kebun Forum

 

8 Juni s.d 7 Juli 2006

Mapping oleh Kunci Cultural Studies

 

12 Juli – 3 November 2006

Studi Lapangan & Studio

 

4 – 10 November 2006

Pameran Komik & Video

 

 

Seniman mengangkat situasi suatu daerah sebagai inspirasi karya, adalah bukan hal baru dan luar biasa. Begitu pula dengan Proyek Seni Gondomanan. Proyek Gondomanan adalah sebuah proyek artistik yang dilakukan oleh seniman dan berujung pada penciptaan karya berupa komik dan video. Disain proyek ini adalah menstilir gerak, ritme, dan rutinitas yang terjadi di sepanjang ruas jalan Gondomanan dari perempatan Klenteng (Vihara Budha Praba)  s.d perempatan Pojok Beteng Wetan. Melalui strategi stilisasi, deformasi, hiperbolik dan superlatif, diimbuhi dengan pengetahuan sosial, seniman mencoba mengimajinasikan kemungkinan perubahan-perubahan yang akan terjadi di daerah itu. Proyek ini melibatkan 8 seniman rupa yang akan bekerja di studio (KKF) selama 3,5 bulan (12 Juli – 3 November). Kerja studio adalah kerja rekronstuksi pengalaman amatan di lapangan dengan sketsa-sketsa dan pameran benda-benda temuan atau pinjaman yang diasumsikan sebagai medan (tidak) bebas makna. Proyek Gondomanan akan diawali dengan pameran oleh KUNCI Cultural Studies Centre (8 Juni – 7 Juli) yang mengungkap peta sosial-ekonomi-politik komunitas yang ada di sepanjang ruas Gondomanan. Proyek ini merupakan proyek studio I yang dilakukan oleh KKF bekerjasama dengan KUNCI Cultural Studies Centre. Delapan  seniman rupa itu adalah (1) Ibnu Gepeng, (2) Bendung, (3) Wedhar Riyadi, (4) Yovita, (5) Angel Melani, (6) Wimo Ambala Bayang, (7) Cika, (8) Choiru Pradono (Ndik). Secara keseluruhan Proyek Gondomanan berdurasi 4,5 bulan. Selama itu penonton bisa mengikuti peristiwa dan situasi Gondomanan sehari-hari melalui sketsa seniman kemudian perkembangan bentuknya ketika imajinasi dan gaya bahasa telah diimbuhkan. Sangat dimungkinkan munculnya diskusi-diskusi dan debat-debat terbuka mengenai ketepatan penggunaan gaya bahasa.

 

 

Gondomanan adalah daerah yang terletak di antara Sungai Code wilayah Sayidan sampai Keparakan Kidul (Selatan) dan bagian timur tembok benteng Kraton Yogyakarta, membujur dari utara ke selatan dari Klenteng Gondomanan (Vihara Budha Praba)Pojok Beteng Wetan (sudut benteng Kraton sebelah timur). Penanda penting di ruas ini adalah Purawisata yang terkenal dengan pentas Sendratari Ramayana dan hiburan malam musik dangdut. Sekitar 25 tahun yang lalu, Purawisata adalah Taman Hiburan Rakyat (THR) dan dikenal sebagai arena perjudian dengan tingkat kriminalitas yang tinggi..THR adalah juga terminal angkutan kota dan pada tahun 1985 peristiwa PETRUS menghapus jejak kriminal di daerah itu, dilanjutkan dengan pemindahan terminal  ke Umbulharjo. Gondomanan juga dikenal sebagai pecinan yang sifat dagang komunitas itu  menghidupkan daerah ini. Bagaimana Gondomanan saat ini?

 

 

 

MEMETAKAN GONDOMANAN

 

Pameran yang berlangsung pada 8 Juni s.d 7 Juli 2006 ini adalah studi anatomi sosial I untuk mengawali Proyek Seni Gondomanan. Sebuah proyek seni rupa berbasis penelitian sosial yang melibatkan 10 seniman komik dan video. Pada dasarnya peta adalah kumpulan cerita. Proyek ini bertujuan memberi makna lain dari peta. Peta bukan hanya berfungsi menunjukkan arah dari suatu tempat ke tempat lain. Peta yang tidak sekedar menunjukkan deretan rumah, toko, atau gang-gang kecil, tapi juga yang bisa menunjukkan jalinan sosial, ekonomi, perebutan kekuasaan, gosip, antar penghuni yang ada di sepanjang ruas Gondomanan. Dalam kerja ini KUNCI menggabungkan berbagai macam perangkat yang memungkinkan tampaknya peta sosial-ekonomi-politik komunitas. Secara khusus, pintu masuk yang dipilih KUNCI adalah dengan melakukan studi atas benda-benda (komoditas) yang ada di Gondomanan. Jadi ini adalah peta benda-benda.

 

KUNCI Cultural Studies Center didirikan pada tahun 1999 yang bekerja untuk mengembangkan kajian budaya, pendidikan populer, dan pemberdayaan anak muda.

 

 

 

MEMETAKAN GONDOMANAN

 

Tim Kerja Gondomanan Project – Tahap 1

 

Riset:

Nuraini Juliastuti

Yuli Andari Merdikaningtyas

Antariksa

 

Penulis:

Nuraini Juliastuti

 

Kolaborasi Realisasi Gambar dengan:

Sigit Pius

Iwan Effendi

 

Kolaborasi Realisasi Foto dan Video:

Wimo Ambala Bayang

 

Fasilitator Workshop Linguistik:

Kris Budiman

—————————————————————-

 

Peta benda-benda di Gondomanan

 

 

Bapak Pucung,

Pasar Mlati Kidul Denggung,

Kricak Lor Nagara,

Pasar Gedhe loring loji,

Menggok ngetan kesasar nyang Gondomanan[1]

 

 

Pada dasarnya peta adalah kumpulan cerita. Proyek ini bertujuan untuk memberi makna lain dari peta. Peta yang bukan sekedar berfungsi menunjukkan arah dari suatu tempat ke tempat lain. Peta yang tidak sekedar menunjukkan deretan rumah, toko, atau gang. Tetapi juga bisa menunjukkan jalinan sosial, ekonomi, gosip, perebutan kekuasaan antar penghuni, yang ada di sepanjang ruas Gondomanan.

 

Pintu masuk yang kami pilih kemudian adalah dengan melakukan studi atas benda-benda (komoditas) yang ada di Gondomanan. Jadi ini adalah peta benda-benda. Benda-benda apa saja yang diperjualbelikan disana, siapa yang melakukan praktek pertukaran tersebut, apa yang melatarbelakangi pemilihan lokasi untuk pertukaran benda-benda itu, bagaimana sejarah benda-benda tersebut, bagaimana semua itu didistribusikan (praktek persebaran), darimana pengetahuan produksi atas suatu komoditas diperoleh, apa yang mendasari satu benda populer pada jamannya.

 

Mengapa kami akhirnya memutuskan untuk berkonsentrasi kepada benda-benda dalam proyek ini? Pertama, kami memang tidak meniatkan diri untuk benar-benar membuat suatu proyek konservasi lingkungan atas wilayah Gondomanan. Kami mencoba membuat studi atas sesuatu yang lebih sesuai dengan latar belakang wilayah kerja kami selama ini. Akhirnya pilihan jatuh kepada benda-benda atau komoditas yang kami jumpai di wilayah itu. Kedua, benda-benda memang sesuatu yang bisa berubah-ubah, dalam arti mereka bisa berada di mana saja, dan dengan demikian tidak bisa dijadikan patokan kekhasan suatu tempat. Disini kami lebih tertarik untuk mempelajari benda-benda, baik dari sisi materialitas dan menggali cerita yang ada dibaliknya.

 

Kami melakukan wawancara, studi atas iklan-iklan lama di majalah dan koran lokal lama, mencocokkan data-data visual yang kami miliki dengan ingatan informan yang kami wawancarai. Sebagai hasil akhir, kami menggabungkan berbagai macam perangkat yang memungkinkan munculnya peta tersebut mulai dari foto-foto, video, esai, dan drawing berisi rekonstruksi atas titik-titik tertentu dari Gondomanan.

 

 

Sepeda, Sepeda Motor, Skuter

 

Satu temuan tentang Gondomanan adalah bahwa jalan ini penuh dengan benda-benda komoditas perjalanan fisik: roda, ban, sepeda, sepeda motor, tambal ban, bis kota.

 

Belum diketahui siapa yang memelopori membuat toko sepeda di jalan ini. Tetapi pada 1959 tercatat ada toko sepeda “Tjong & Co”, di Jl. Gondomanan 9. Toko ini tampaknya tidak hanya menjual sepeda, tetapi juga menjual dan membeli ban serta menerima pekerjaan vulkanisir ban truk dan sedan.[2]

 

Toko Sepeda “Tjong & Co”

Jalan Gondomanan 9, Yogyakarta

Menerima: pekerjaan vulkanisir ban-ban, truck dan sedan. Djual beli ban-ban.

 

Kapan sepeda mulai dikenalkan kepada publik Indonesia? Dari Jejak Langkahnya Pramoedya Ananta Toer paling tidak kita tahu kalau sepeda sudah bukan sesuatu yang asing di Batavia pada awal abad 20. Seperti kata Minke pertama kali ia menginjakkan kaki di bumi Betawi[3]:

 

Delman, grobak, saldo, bendi, victoria, dokar—semua persembahan peradaban pendatang beriringan di setiap jalan. Penunggang-penunggang kuda dalam pakaian aneka ragam. Juga sepeda! Tidak lagi jadi tontonan umum! Aku juga akan punya. Berapa kiranya harganya? Gesit benar pengendara si rodadua itu. Orang mengayuh pelan, dan semua pemandangan tak luput dari mata…

 

Melihat keadaan sekarang (th.2006), dimana di jalan ini banyak didapati toko yang menjual ban-ban mobil, juga tukang-tukang tambal ban, memang bisa dikatakan bahwa ban adalah salah satu komoditi—dan bagian dari spare part sepeda—yang  penting dari jalan ini. Merunut sejarah penggunaan makam Belanda Kerkhoffen sebelum akhirnya kita kenal sebagai THR Purawisata sekarang, ternyata ia sempat difungsikan sebagai terminal sementara bis-bis antar kota. Dengan begitu, Jalan Gondomanan adalah jalan protokol yang ramai. Wajar jika komoditas yang banyak dijual di sana adalah sesuatu yang berhubungan dengan kendaraan bermotor (sparepart mesin, bengkel motor/mobil, mur baut, ban, vulkanisir, dsb). Dan karena itu tidak aneh juga ada sebuah toko sepeda yang juga melayani vulkanisir ban truk dan sedan, seperti toko sepeda “Tjong & Co” diatas misalnya.

 

Di Jalan Gondomanan ini, ada titik dan sudut jalan dimana para pedagang/pengusaha kecil kaki lima ini menjalankan usahanya secara berkelompok. Misalnya di depan kompleks SD/SMP Marsudirini—ada deretan rombong-rombong tukang kunci. Ada tujuh tukang kunci berderet-deret dari depan kompleks sekolah itu sampai pengkolan jalan menuju Jalan Ibu Ruswo (dulu Jalan Yudonegaran). Sementara tukang tambal ban atau setel roda bisa dijumpai dengan mudah di sepanjang Jalan Gondomanan mulai dari depan jalan masuk menuju GKI Gondomanan sampai depan Purawisata. Orang-orang dengan keahlian spesialis perbaikan ban dan yang berhubungan dengan roda ini lebih banyak berlokasi di sisi kiri jalan—itu kalau kita masuk Jalan Gondomanan dari arah wilayah Loji Kecil (sekarang dikenal dengan nama Jalan Mayor Suryotomo).

 

Lurus saja dari arah Jl Gondomanan menuju ke selatan, kita akan melewati Jl Kintelan.Dan di sana ada pasar sepeda “Wetan Benteng”, tepatnya di Jl Kintelan 54-56. Begini bunyi iklan pasar sepeda itu[4]:

 

Tanggung tidak akan ketjewa. Mengenai keperluan sepeda anda dapat:

Mendjual speda jang lekas laku menurut harga pasar

Membeli speda jang tidak keblosok dan harga murah

Tukar-tambah speda jang dapat lajanan ramah-tamah dan memuaskan

 

Buka djam 8-21  Minggu & hari raja buka terus

 

Sepeda termasuk jenis kendaraan yang paling banyak lalu lalang di jalanan kota Yogyakarta pada akhir tahun 50-an sampai 60-an. Selain sepeda, ada becak, dokar, gerobak, grindhing. Sepeda motor dan mobil masih sangat jarang. Usaha sepeda di Gondomanan yang paling aktif beriklan di media lokal macam Kedaulatan Rakjat, paling tidak di sepanjang tahun 1950an dan 1960an adalah Pasar Sepeda Wetan Benteng Wetan dan Toko Sepeda “Tjong & Co”. Toko sepeda lain di jaman itu bisa juga dijumpai di Jalan Malioboro 7 (Toko Sepeda Eng Long) dan Jalan Lodji Ketjil 20 (Toko Sepeda & Reparasi Wirio Soeseno), keduanya berlokasi tidak jauh dari Gondomanan.

 

Merek-merek mobil atau sepeda motor yang paling beredar pada masa itu adalah bikinan Eropa. Untuk mobil kita bisa menyebut merek Fiat, Dodge, Ford, Impala dan Chevrolet. Sementara untuk sepeda motor kita bisa menyebut nama-nama DKW Hummel, BMW, BSA, Puch, Norton, Ducati Luxor, atau Vespa. Skuter atau vespa tampaknya merupakan jenis kendaraan yang paling populer pada masa itu.[5] Vespa dan kendaraan sejenisnya digambarkan sebagai kendaraan yang cantik, indah dan elegan. Simak iklan Lambretta di bawah ini[6].

 

Pilihan Dunia Beralih ke Lambretta

 

Lambretta akan muntjul kembali di Indonesia…dan semua matjam scooter akan jadi ketinggalan zaman! Tunggulah saat muntjulnya Lambretta type J 125 di tengah masyarakat Indonesia. Anda akan menyaksikan gagasan terbaru di bidang kendaraan beroda-dua.

 

Bentuknya: lintjah, mungil dan indah…Pendjelmaan gemilang dari gaya seni rupa Italia modern. Keunggulan teknisnya: Lambretta type J 125 merupakan hasil penjelidikan dan pemikiran mendalam untuk mentjiptakan kendaraan yang harus memenuhi segala sjarat sebagai alat pengangkutan rakjat…murah, kuat dan tinggi daja tahannja. Djalannya: bandingkan dengan scooter lain…

 

Nikmatilah betapa ringan dan luwesnja ia meluntjur diatas djalan kasarpun. Pendeknja djika anda berniat membeli scooter, tunggulah sampai anda dapat selidiki dan bandingkan sifat-sifat dan kemampuan Lambretta type J 125. Pasti. Pilihan manapun akan beralih ke Lambretta.

 

Lambretta. Pabrik scooter terbaik di dunia.

 

Penegasan kesan indah dan elegan ini dilakukan lewat acara-acara macam pawai atau karnaval antara para pemakai kendaraan ini. Seperti tercatat dalam iklan ajakan berpawai ini[7].

 

“Sudahkah anda mendaftarkan: Vespa Scooter Concours d’Elegance? Ikutilah beramai-ramai Vespa carnaval pada tgl 16 Mei 1959 djam 16.50 WIB, kumpul di Sekolah Pontjowinatan. Tanpa pembajaran, bahkan disediakan benzin.”

 

Iklan tersebut menunjukkan bahwa ternyata aktivitas pawai atau tradisi perkumpulan antar kendaraan dengan merek yang sama—seperti sering kita jumpai sekarang perkumpulan antar pemilik skuter Mio, Honda Tiger, Taruna, sepeda onthel, Harley Davidson—samasekali bukan hal baru.

 

Tiga hari kemudian di media yang sama muncul berita foto acara karnaval skuter itu.Dalam karnaval itu diselenggarakan kompetisi fesyen sambil bergaya dengan skuter masing-masing.[8]

 

Vespa Scooters Concours d’elegance di Jogja.

Kiri ke kanan: Trees Tan pemenang ke-3 carnaval dengan pakaian putri Bali; Joyce Andu pemenang 1 dan 3 single wanita: (Joyce dengan piala dan sebelahnja bergaja dengan pakaian sport); Fauzi pemenang 1 single prija; pemenang double 1 & 2 R Ibrahim dan Emmy beraksi. Gambar kanan sekali: Betty Mathews dengan piala kemenangannja di double bersama Ibrahim djuga.

 

Melihat tahun kemunculan skuter di negara asalnya sana serta peredarannya di negara-negara Eropa atau Amerika, serta dihubungkan dengan popularitas skuter di Yogyakarta pada masa-masa yang bersamaan, maka bisa disimpulkan bahwa Yogyakarta, bersama dengan kota-kota besar lain di Indonesia masa itu adalah kota-kota yang tidak ketinggalan jaman, selalu mengikuti perkembangan benda atau komoditas lain yang penting dari belahan dunia lain.

 

Mungkinkah karena desainnya yang elegan dan seksi itulah maka para pengendaranya juga selalu tertantang untuk selalu bergaya dengan kendaraannya itu. Selain itu, skuter juga  merupakan kendaraan roda dua yang menawarkan keintiman bagi pasangan pengendaranya. Jarak menjadi hilang. Yang asing menjadi akrab dan hangat.

 

Cemara Sepi

 

…Mesin skuter berderum-derum. Dan tuternya empat-lima kali panjang-panjang. Tody menjenguk lewat jendela warung. Lalu cepat-cepat membayar minumannya dan keluar.

 

Irawati menggoyang-goyang stir skuternya.

 

“Jadi kita pergi?” tanyanya.

“Oke.”

 

Lalu gadis itu turun dari sadel. Tody menggantikan tempatnya. Dan mereka beranjak.

 

“Tak ambil jaket dulu?” kata Irawati disela redanya mesin antara persneling satu dengan dua.

“Tak usah,” jawab Tody sambil menancap gas.

“Nanti dingin…..”

“Ada kau kan hangat.”

“Aha, mulai pandai merayu. Kenapa tak sejak dulu begitu?”

“Ah, diamlah.”

 

Dan kecepatan mereka tambah tinggi. Angin berkesiur. Semakin jauh dari kampus Gajah Mada. Meninggalkan jajaran cemara dan pohon flamboyan.

 

Hari kesembilan dalam pergaulan mereka. Dan kini mereka disambut naungan pohon mahoni sepanjang jalan keluar kota. Anginpun mulai terasa kemurniannya. Jalan kian menanjak. Semakin tertinggal bau kota yang hiruk dan tengik, mereka melaju menuju Kaliurang.

 

Di jalan yang berbelok-belok, Irawati mendempel ketat ke punggung Tody. Lelaki itu menaksir-naksir jalan di depannya, dan merasakan getaran mesin lewat tangannya yang mencengkeram gas. Tubuh gadis itu lunak. Pipinya menempel di bahu Tody. Hingga anak-anak rambutnya mengelus-elus pipi lelaki itu.

 

Keluarga gadis itu punya rumah peristirahatan di Kaliurang. Rumah yang halamannya berumput halus, dan ditumbuhi bunga-bunga. Dan sepi. Hanya ada pelayan suami-istri yang selamanya bersikap seperti hamba terhadap majikannya. Kedua orang itu dari tahun ke tahun mengabdikan diri untuk kesenangan majikannya, orang-orang kota itu. dari tahun ke tahun hidup di daerah gunung yang sepi pada hari-hari yang bukan hari libur. Tak pernah memikirkan lain, kecuali mengerjakan tugas-tugas di lingkaran bungalow itu.

 

Ke situlah sekarang tujuan skuter itu. Irawati mengomando, apakah skuter harus belok ke kiri, terus, lewati pertigaan, terus, belok kanan, menanjak lagi, terus, dan hop! Tody memijak rem.

 

“Bunyikan tuternya,” kata Irawati[9].… 

 

Berapa harga-harga kendaraan bermotor pada masa itu? Situasi perekonomian di Indonesia pada akhir 1950an tidak begitu baik. Kebijakan sanering atau pemotongan uang kertas membuat nilai rupiah menjadi jatuh. Kondisi ini ikut mempengaruhi harga-harga kendaraan bermotor. Tetapi meski harga telah jatuh,  masyarakat tetap dingin bereaksi. Cuplikan berita berikut menyoroti keadaan di Jakarta[10]. Meski demikian, kondisi yang tidak terlalu jauh berbeda saya rasa terjadi juga di Yogyakarta.

 

Pasaran sepeda motor di Jakarta

 

Sebagai akibat dari sanering nampak turunnya harga-harga waktu ini yaitu kurang lebih 30-45% dari harga lama. Harga sepeda motor kita-kira 2 bulan jang lalu selalu melonjak dan menaik hampir setiap waktu disebabkan banyaknya pembeli. Tetapi meski harga telah sangat jatuh namun pembeli belakangan ini belum perlihatkan reaksinya. Menurut mereka masih menunggu dan menduga harga-harga yang akan turun lebih lanjut lagi.

 

Saya akan menyalin tabel berisi perubahan harga pasaran sepeda motor. Dan dari tabel ini juga kita bisa mencermati merek-merek sepeda motor yang beredar di jalanan, gambaran suasana benda-benda dan properti yang dimiliki masyarakat masa itu.

 

  Harga per 18-8-1959 Harga per 10-9-1959
JAWA 350 CC    
1954 Rp.  27.500 Rp.  14.000
1955 Rp.  30.000 Rp.  17.000
1956 Rp.  42.500 Rp.  22.500
DKW 125 CC    
1955 Rp.  31.000 Rp.  19.000
1956 Rp.  33.000 Rp.  21.000
DKW Hummel    
1959   Rp.  30.000
BMW 250 CC    
R25 1955/1956 Rp.  60.000 Rp.  37.500
R26 1956 Rp.105.000 Rp.  60.000
R26 1957 Rp.120.000 Rp.  65.000
BSA 350 CC    
1954 Rp.  42.000 Rp.  25.000
1956 Rp.  65.000 Rp.  35.000
Goldstar Rp.  90.000 Rp.  55.000
Puch 250 CC    
1955 Rp.  55.000 Rp.  25.000
1956 Rp.  60.000 Rp.  32.500
1957/1958 Rp.  75.000 Rp.  42.500
NSU 250 CC    
Max 56 Rp.  55.000 Rp.  30.000
Super Max    
1957 Rp.  80.000 Rp.  50.000
Zundap P 200 CC    
1956 Rp.  50.000 Rp.  30.000
150 CC    
1956 Rp.  40.000 Rp.  20.000
1958 Rp.  50.000 Rp.  30.000
175 CC    
1955/1956 Rp.  42.000 Rp.  24.000
1957/1958 Rp.  60.000 Rp.  35.000
250 CC    
1957 Rp.  70.000 Rp.  35.000
Vespa 125 CC    
1955 Rp.  55.000 Rp.  25.000
Norton 500 CC    
1956 Rp.  80.000 Rp.  60.000
     
350 CC    
1956 Rp.  65.000 Rp.  40.000
Ducati 175 CC    
1957 biasa Rp.  50.000 Rp.  25.000
1957/1958 sport Rp.  55.000 Rp.  30.000
98 CC    
1956/1957 Rp. 40.000 Rp.  22.500
Ducati Luxor 48 CC    
1956 Rp. 20.000 Rp.  14.000
1957 Rp. 27.500 Rp.  18.000
Alpino    
1956 Rp. 13.000 Rp.    8.000
Kreidler    
1955 Rp. 12.000 Rp.    8.000

 

 

Bayangkanlah kendaraan-kendaraan itu—bersama dengan becak, sepeda, dan andong serta mobil—berpacu di Jalan Gondomanan yang asri, karena sisi kiri dan kanan jalan ditumbuhi jajaran pohon mahoni. Bayangan jalan seperti diingat oleh Pak Jemek Supardi dan Pak Prayitno ini—yang asri karena sejuknya bayangan pohon di sisi-sisinya—adalah suasana sekitar tahun akhir 1950-an dan 1960-an. Mungkin karena pada tahun-tahun itulah terdapat suasana yang benar-benar berbeda dari sekarang. Dan mungkin juga karena dampak kebijakan politik dan pembangunan di Indonesia yang pasti ikut merubahstreetscape negeri ini. Sehingga suasana tahun 1950-an dan 1960-an itulah yang terus melekat di ingatan  mereka.

 

Tetapi yang pasti, sejauh kepala kita mendongak, belum banyak tiang lampu jalan dan kabel berseliweran diatas kepala kita. Listrik sendiri di Yogyakarta secara resmi diperkenalkan pada Februari 1884, tepatnya pada acara penobatan Gusti Raden Mas Akhadiyat sebagai putera mahkota, yang nantinya akan menggantikan ayahandanya, Hamengkubuwono VII. Tahun sebelumnya telah diadakan rangkaian percobaan penggunaan listrik. Keraton adalah area yang pertama kali menikmati fasilitas listrik. Seperti dikutip dari terbitan Mataram bahwa keraton memesan dua mesin uap dengan kekuatan 15 tenaga kuda untuk memberi daya bagi 196 lampu yang digunakan di bangunan-bangunan dalam keraton, serta 5 lampu besar yang dipergunakan di ruangan terbuka. Dan baru pada 1895, dilakukan studi untuk memenuhi kebutuhan listrik untuk penerangan jalan dan rumah-rumah pribadi. Pada tahun itu juga, di jalan-jalan pusatkota sudah dapat dijumpai lampu jalan dengan bahan bakar minyak dan gasolin. Pasokan listrik untuk publik akhirnya baru benar-benar bisa dinikmati oleh masyarakatYogyakarta pada akhir masa pemerintahan Hamengkubuwono VII. Pada 1919 itu, Algemeene Nederlandsch-Indische Electricities Maatschappij atau General Netherlands-Indies Electricity Company, berhasil membangun jaringan kabel listrik temporer.[11]

 

Saat ini kendaraan-kendaraan dengan nama Eropa itu tidak banyak atau jarang sekali beredar di jalanan negeri ini. Digantikan oleh nama Asia yang lain. Jepang atau Cina. Dan sekarang sepanjang mata diedarkan di sisi kiri-kanan Jalan Gondomanan, tampaklah barisan dealer motor Jepang (Honda, Suzuki, Yamaha) atau dealer motor Cina (Daiheiyo). Serta deretan ruko yang menjual sepeda motor bekas aneka merek.

 

Persepsi orang tentang mobilitas dan kecepatan saat ini sudah jauh berbeda. Banyak faktor yang membuat orang mati-matian ingin memiliki kendaraan bermotor pribadi (motor atau mobil). Cuaca panas dan polusi kendaraan membuat keinginan untuk memiliki kendaraan pribadi semakin meningkat karena bisa melindungi dari sengatan panas matahari, debu, dan bau asap kendaraan. Kecepatan juga semakin dipuja, sehingga semua orang menginginkan mempunyai wahana yang bisa membawa mereka dari satu tempat ke tempat lain secara cepat. Selain itu, cara untuk mendapatkan benda-benda tersebut semakin lama semakin mudah. Misalnya dengan memakai fasilitas kredit atau cicilan.

 

 

Becak

 

Tepat di samping gedung yang sekarang dipakai oleh Buana Fotocopy, terdapat perusahaan persewaan becak “Pun”. Saya belum pernah menemukan iklan perusahaan persewaan becak ini di media lokal yang saya baca. Keberadaan persewaan becak ini saya peroleh dari cerita-cerita orang. Keberadaan usaha ini membuat banyak becak mangkal dari depan bangunan persewaan becak sampai depan kompleks makam Kerkhoffen.

 

Popularitas becak di kota ini—bahkan sampai saat ini—adalah sifatnya yang anti polusi, bisa dipakai untuk mengangkut berbagai macam mulai dari manusia sampai barang-barang, fleksibilitasnya untuk mencapai gang-gang sempit yang tidak terjangkau oleh mobil, dan satu lagi nilai istimewa dari becak adalah sifatnya yang romantis. Tidak salah lagi, pada masa 1970an becak adalah alat angkut yang tepat untuk muda-mudi yang sedang berpacaran atau baru memulai pendekatan. Cocok digunakan untuk melakukan percakapan-percakapan pribadi yang intens dan memberi ruang untuk membangun atmosfer kedekatan antar penumpang. Meski saat ini telah banyak pilihan wahana kendaraan lain, di banyak kota becak tetap bertahan dan menawarkan sesuatu yang berbeda.

 

Ketika Flamboyan berbunga

 

…Jalanan lengang. Di becak yang meluncur, Tody tetap ingat adiknya. Margriet yang merajuk jika tak dituruti keinginannya. Sering dulu, waktu Tody masih SMA, gadis kecil itu ditempelengnya. Kadang hanya karena kesalahan kecil. Gadis itu membongkar susunan bukunya. Karena dia senang melihat potret-potret kota di Jerman, India atau kota-kota besar internasional. Betapa kejamnya dia pada gadis murni itu. Lima tahun tak melihatnya, entah bagaimana sudah perwujudannya. Setahun yang lalu dia menerima potret keluarga mereka. Disitu Margriet telah dewasa. Dia cantik. Pastilah dia jadi rebutan diantara pemuda-pemuda di sana.

 

Seperti gadis yang duduk di sampingnya ini. Mungkin dia jadi rebutan senioren-seniorennya. Akibatnya, dia mengalami berbagai perlakuan overacting dari senioren-seniorennya. Akibatnya, dia pingsan. Sampai dua kali. Ah! Kenapa tak kuperhatikan sejak siang tadi? Ah!

 

Irawati merasakan roda becak yang beberapa kali kejeglong di lobang. Sedang lelaki di sampingnya sebisu arca. Lalu seolah tak sengaja, disikutnya. Tody tersentak.

 

“Eh, maaf. Maaf mas Tody, maaf…”

“Hm. Tak apa-apa.”

“Mas Tody kok pendiam banget sih?”

“Aku pendiam?”

“Iya. Membikin orang takut.”

“Kenapa takut?”

“Angker.”

“Kayak hantu kuburan?”

“Ah,” sikut Irawati masuk lagi ke rusuk Tody.

 

Tody membiarkan sikut yang kecil itu bersarang di pinggangnya.

 

“Kenapa sih kau gampang pingsan?” tanyanya.

“Habis, kakak-kakak mahasiswa mengerikan.”

“Siapa?”

“Semua.”

“Ah, masak. ‘Kan ada yang baik.”

“Tak ada yang baik. Semua kejam.”

“Mungkin kau yang banyak tingkah.”

“Banyak tingkah bagaiamana?”

“Aleman. Manja.”

“Siapa bilang…?”

 

Tody diam. Rantai becak berderit-derit. Irawati diam. Desah tukang becak bercampur dengan dengan desir-desir ban yang bersentuhan dengan pasir.

 

“Siapa bilang…?” ulang gadis itu. Tody Cuma menggumam.

 

“Kakak-kakak senior yang sewenang-wenang. Memerintah seenaknya. Menghukum semaunya. Masak putri-putri disuruh lari-lari keliling lapangan. Disuruh push-up,” kata Irawati getir.

 

“Itu biasa. Melatih mental. Kan kaum wanita yang menuntut emansipasi. Diberi perlakuan yang serupa dengan lelaki terus ribut. Lalu maunya cuma persamaan yang enak saja? Kedudukan yang enak, mau sama. Tapi yang sulit-sulit, ditolak. Emansipasi apa itu?”

 

Irawati diam. Sedang sikutnya di pinggang lelaki itu masih bertengger. Membuat Tody tersudut ke pinggir becak. Dan ketika jeglongan besar, Tody merasa pinggangnya tersodok.

 

“Wah, sikumu kayak tombak,” katanya seraya memegang siku gadis itu.

“Habis saya kurus sih…”

“Kurus juga cakep.”

“Ah.” Sikutnya masuk lagi. Ditahan Tody.

“Kan orang-orang muda jaman sekarang suka model ceking,” kata Tody.

 

Irawati meliriknya. Dan mereka tiba di depan rumah yang dinaungi pohon mahoni.

 

“Di sini rumah saya mas. Hoop….. Stop cak!” kata gadis itu. Rem becak berderit. Dan gadis itu melompat.

 

Eh, seliar itu geraknya. Tadi seperti ayam sakit, pikir Tody.

 

Irawati membuka pintu pagar.

 

“Bagus sekali taman ini,” kata Tody.

 

Bulan bersinar penuh, menimpakan cahayanya pada bunga-bunga di halaman rumah itu.

 

“Siapa yang merawat bunga-bunga itu?”

 

“Mama,” jawab gadis itu. Dan dia menekan bel. Panjang sekali.[12]

 

 

 

 

 

 

Percetakan dan Bisnis Media

 

Mal Jogjatronik berdiri di bekas gedung PT. Pertjetakan Republik Indonesia. Saya berpikir bahwa mungkin keberadaan gedung percetakan milik negara itulah yang membuat di jalan ini juga terdapat beberapa usaha percetakan/penerbitan lain.

 

Begini bunyi iklan percetakan negara itu tahun 1959[13].

 

Masih ada dalam persediaan.

“Rekonstruksi Sedjarah Indonesia Zaman Hindia” oleh Warsito Sastroprajitno.

Harga Rp. 27,50

PT Pertjetakan Republik Indonesia

Penerbitan-Pertjetakan-Klise

Gondomanan 75-77, Tilp. 729 – Jogja

 

Berjalan ke utara dari lokasi percetakan negara itu, hanya beberapa langkah dari kediaman keluarga M Saman dan usahanya, terdapat percetakan Sinar Asia. Sampai menjelang akhir 1960an, usaha percetakan ini masih aktif beriklan di koran lokal[14].

 

Pertjetakan “Sinar Asia”

Gondomanan 33. Tilp. 475

Perkara tjepatnya, bukti yang akan menjadi saksi. “Sinar Asia” bersedia juga mendjualkan karcis-karcis untuk  pertundjukan amal, sepak bola, dll.

 

Penerbit lain di jalan ini adalah Penerbit Jajasan “Pantja Sila”, terletak di Jalan Gondomanan 43[15].

 

Selesai ditjetak “Pantjasila”

Harga 1 buku f 3

Penerbit Jajasan Pantja Sila

Gondomanan 43 – Jogja

 

Bidang usaha lain yang paling dekat hubungannya dengan penerbitan atau percetakan adalah toko buku. Sedikitnya ada tiga toko buku berada di jalan ini. Ada toko buku Spring (lokasi tepatnya kurang jelas), toko buku Timbrius (berlokasi di depan SD Kintelan), dan toko buku BP Nasional di Jalan Gondomanan 1. Toko buku yang terakhir ini berhubungan dengan keberadaan PNI Marhaen yang bermarkas di gedung yang sama.

 

Selain toko buku, gedung ini juga menghasilkan media bernama Harian Pagi Nasional. Masa kelahiran media ini, tahun 1950an, adalah masa ketika di negeri ini tumbuh subur banyak partai dengan ideologinya yang bermacam-macam. Dan hampir semua partai tersebut atau organisasi-organisasi yang berafiliasi dengan partai-partai itu menerbitkan medianya sendiri sebagai corong kebijakan politik partainya. Masa pers partisan.

 

Dari Yogyakarta terdapat misalnya Suara Tani, majalah resmi organisasi Barisan Tani Indonesia, serta Wanita Sedar, yang diterbitkan oleh sekretariat penerangan/pendidikan pengurus besar organisasi Gerwis. Dari Jalan Gondomanan, setidaknya terdapat Harian Pagi Nasional, Revue Indonesia, dan Suara Buruh Pegadaian.

 

 

Studio Foto

 

Mas Mukimin, putra Mas Saman, mempunyai hobi fotografi. Ia membuat studio foto di samping rumah keluarganya di Gondomanan. Jejak studio foto tua tersebut adalah dua buah foto berukuran besar tergantung di dinding teras rumah. Tulisan di papan dalam foto tersebut bertuliskan: Indonesische Fotograaf Trisno Roso Djokja, dan berangka tahun 1938. Menurut cerita Pak Prayitno, anak laki-laki Mas Mukimin, saat itu tidak banyak orang Jawa yang mempunyai usaha studio foto sendiri.

 

Tampaknya Mas Mukimin juga diwarisi bakat kreatif dari ayahnya. Ia mampu membuat mesin pembesaran foto (enlarger) sendiri. Sayang saat ini sebagian perangkat fotografi peninggalan Mas Mukimin sudah banyak dibeli orang, sehingga tidak banyak lagi yang tersisa.

 

Dulu sekali, tidak jauh dari kediaman dan tempat usaha Mas Mukimin, pernah tinggal seorang fotografer Jawa kenamaan pada jamannya. Kassian Cephas namanya. Lahir di Yogyakarta pada 1845, dari pasangan Jawa: Minah dan Kartodrono. Jalan hidup yang ditempuh Cephas kemudian adalah kehidupan yang dekat dengan kalangan Belanda dan keluarga elit Kesultanan Yogyakarta. Secara resmi, ia bekerja sebagai fotografer untuk Kesultanan Yogyakarta. Bahkan Cephas melakukan prosedur untuk mendapatkan hak legal status “gelijkgesteld met Europeanen” atau “sejajar dengan orang Eropa” untuk dirinya dan dua orang anak laki-lakinya—Sem dan Fares. Cephas dan keluarganya termasuk keluarga Jawa pertama yang menganut agama Kristen Protestan. Disebutkan bahwa ia adalah murid dari Christina Petronella Philips-Steven. Paling tidak ada tiga orang Belanda darinya Cephas mengenal dan mempelajari ilmu fotografi yaitu Isidore van Kinsbergen, Simon Willem Camerik, dan Isaac Gronemen. Pengetahuan tentang teknologi kamera dan fotografi didapat dari kalangan penguasa dan pemegang supremasi pengetahuan tertinggi masa itu: Belanda.

 

Pada tahun-tahun 1860an dan 1870an, Kassian Cephas sudah dikenal sebagai fotografer yang mapan. Cephas dan keluarga tinggal di rumah besar bertingkat tiga di Jalan Lodji Ketjil. Lantai pertama dipakai sebagai toko, lantai kedua sebagai studio, dan lantai ketiga sebagai rumah tinggal. Posisi bangunan tempat tinggal Cephas ini kira-kira berlokasi di tempat dimana bangunan swalayan Progo sekarang berdiri. Salah satu produk yang dihasilkannya adalah paket foto berisi foto pemandangan, gambar bangunan, jalan atau monumen-monumen kuno, sebagai suvenir untuk para pelancong yang datang berkunjung ke Yogyakarta. Paket suvenir foto itu dijual seharga f 1. Tahun-tahun itu Cephas jelas bukan satu-satunya fotografer. Saingannya adalah para fotografer Eropa yang memang biasanya berprofesi sebagai fotografer keliling dari satu kota ke kota lain dan menyediakan juga layanan studio untuk publik, seperti Barth & Tagesell, Persijn, O. Kurkdjian, dan Jos Sigrist.

 

Tidak diperoleh keterangan dari mana Mas Mukimin ini mendapatkan pengetahuan tentang fotografi. Pak Prayitno hanya mengatakan bahwa ayahnya mengenal fotografi sejak tinggal di Yogyakarta. Saat Mas Mukimin memulai usahanya, usaha fotografi keluarga Cephas yang diawali dari Kassian Cephas dan lantas diteruskan oleh anaknya—Sem Cephas—sudah tidak ada lagi. Sem Cephas benar-benar memegang kendali penuh atas usaha ayahnya pada 1905. Dan pada 1918 ia meninggal karena kecelakaan berkuda di Alun-alun Kidul. Setelah itu tampaknya tidak ada lagi yang meneruskan usaha fotografi keluarga Cephas.

 

Pada awal 1900-an sudah banyak studio berdiri di Yogyakarta, baik didirikan oleh fotografer yang hanya singgah saja di kota ini maupun fotografer lokal dan permanen. Selain studio foto yang didirikan oleh fotografer Belanda dan Jawa (keluarga Cephas), sudah ada dua studio foto yang didirikan oleh keluarga Cina. Sangat mungkin Mas Mukimin ini belajar fotografi dari kalangan fotografi yang ada di kota ini, yaitu dari lingkaran orang-orang Belanda atau Cina.

 

Baik usaha foto maupun kijing (cerita tentang kijing bisa didapatkan di bagian lain esai ini) menurut pengakuan Pak Prayitno tidak banyak dipromosikan melalui iklan. Keluarga ini percaya bahwa konsumen akan datang dengan cara komunikasi gethok tular[16]saja. Tetapi iklan mini usaha keluarga M Saman bisa juga dijumpai di media lokal Yogyakarta.[17]

 

Menjambut Hari Ulang Tahun ke-XVII Kemerdekaan R.I 17 Agustus 1962.

Photo “M Saman”

Djl. Gondomanan No. 37 – Yogyakarta

 

Kelak yang mewarisi usaha studio foto tersebut adalah Roestam Saman. Roestam Saman dan Prayitno sama-sama mempunyai hobi memotret dan sering berburu foto bersama-sama.

 

Tiga tahun sebelumnya dan juga tetap dalam rangka menyambut hari ulang tahun kemerdekaan Indonesia, usaha foto M Saman ini juga beriklan di koran yang sama. Kali ini berdampingan dengan usaha toko kijing.[18]

 

M Saman’s Photo

Siang/Malam & menerima panggilan serie opname

 

Pada masa itu, usaha studio foto M Saman bukan satu-satunya yang ada di kota ini. Ada Jogja Studio di Jalan Tanjung 9, ada Janry Photo Service di Jalan Ketandan 3, dan ada Fotograaf Liek Kong di Tugu Kidul 81. Hal menarik dari iklan-iklan studio foto ini adalah penonjolan teknologi terbaru yang diterapkan dalam studio foto mereka. Mereka berlomba-lomba memamerkan atau menjual kecanggihan teknologi fotografi terbaru yang mereka gunakan. Film berwarna lebih canggih daripada film hitam-putih. Iklan di bawah ini menunjukkan kebanggaan atas film berwarna.[19]

 

Memperkenalkan!!! Janry Color Photo Service. Ketandan Kidul No 8 – Jogja.

Alamat untuk: mentjutjikan pilem-pilem berwarna dari merk:

–          Geva color N 3

–          Geva color N 5

–          Geranta color N

–          Agfacolor NT dan pakolor

 

Ditjutji selesai dalam 24 jam. Ongkos sengadja diringankan! Untuk luar kota tambah ongkos kirim.

 

Saat ini studio foto M Saman sudah tutup. Berganti dengan usaha jual-beli voucher handphone. Cucu Mas Mukimin, yaitu putranya Pak Roestan Saman, Dodi membuka usaha fotografi di samping rumah keluarganya di Jalan Ireda (Keparakan Lor). Dan mengikuti trend sekarang, ia membuka studio foto digital.

 

 

Kijing

 

Pemakaman bagi orang-orang Belanda, yang dinamakan Kerkhoffen pernah berdiam sangat lama di Jalan Gondomanan. Lidah orang Jawa tidak pernah sempurna melafalkan nama itu, dan selalu melafalkannya dengan singkat saja: Kerkop.

 

Dari peta lama (dibuat tahun 1900) seperti tertera di buku tentang Kassian Cephas terbitan KITLV, pemakaman Belanda tersebut sudah ada. Tertulis di samping gambar makam tersebut: Europesche Begraafplaats.

 

Jika mencoba membayangkan posisi makam Belanda itu dalam setting wilayah itu jauh di masa lalu, sebenarnya tidak aneh jika ia berada di Jalan Gondomanan. Kerkhoffen berada dalam lansekap ke-Eropa-an yang kental. Benteng Vredeburg—di Jalan Malioboro (sekarang Jalan Ahmad Yani)–dibangun  pada abad 18. Tetapi para prajurit Belanda tidak tinggal dalam barak-barak dalam benteng, melainkan di agak luar benteng. Tepatnya di Kampemenstraat, sekarang bernama Jalan Senopati. Persis di depan benteng, dibangun rumah dan kantor Residen pada 1824. Pada abad 19, kekuasaan Belanda di Yogyakartaterdiri dari Residen, Asisten Residen, Sekretaris, Administratur dan 5 orang polisi. Di belakang benteng, didirikan European Club, yang biasa disebut juga dengan Societeit, De Vereniging atau The Union. Sekolah dasar untuk orang Belanda pertama di Yogyakartaberdiri pada 1832, berlokasi di jalan antara Jalan Lodji Ketjil (sekarang Jalan Mayor Suryotomo) dan Sungai Code. Sampai sekarang gedung sekolah itu masih ada dan tetap digunakan sebagai sekolah SD dan SMP milik Yayasan Bopkri. Orang-orang Belanda yang bukan bekerja di pemerintahan Belanda, bertempat tinggal dan membangun tempat usaha mereka di daerah sekitar Lodji Ketjil dan Sungai Code itu.[20] Sementara mereka yang bekerja di pemerintahan biasanya bertempat tinggal tidak jauh dari rumah dan kantor residen.[21]

 

Pemakaman Belanda yang terdapat di Jalan Gondomanan bukan satu-satunya pemakaman Belanda di kota ini. Dari kisah kematian Kassian Cephas diceritakan bahwa ia (bersama dengan istri—Dina Rakijah, menantu laki-laki dan anak-anak laki-lakinya—Sem dan James) dimakamkan di Kuburan Sasanalaya: Register Derde Kerkhoff, yang terletak di antara Pasar Beringharjo dan area Jalan Lodji Ketjil. Pada peta lama tahun 1900-an, lokasi pemakaman ini memang masih bisa jelas terlihat, dan berukuran jauh lebih kecil dari pemakaman Belanda yang ada di Jalan Gondomanan. Tetapi rupanya umur pemakaman Belanda di area pasar Beringharjo-Lodji Ketjil itu tidak panjang. Karena disebutkan bahwa pada 1964, seluruh jasad keluarga Cephas itu harus dipindahkan ke Kuburan Sasanalaya: Register Vierde Kerkhoff yang ada di Jalan Gondomanan karena di kompleks kuburannya yang lama akan dibangun jalan dan bangunan.

 

Di Jalan Gondomanan terdapat usaha kijing satu-satunya yang masih ada. Di bawah ini adalah sebagian kisah Keluarga M Saman yang diceritakan kepada kami.[22]

 

Mas Saman dan keluarganya memutuskan untuk pindah dari Surabaya ke Yogyakarta pada tahun 1920-an. Berbagai macam pekerjaan dijalani di kota Surabaya. Ia memang terlahir sebagai orang dengan kelebihan keterampilan tangan yang tinggi. Ia punya keahlian untuk memahat batu, dan kerap kali menerima permintaan orang Belanda untuk menulis papan nama. Sampai akhirnya ia mengembangkan untuk membuat nisan-nisan untuk makam-makam Belanda.

 

Mas Saman kemudian mewariskan keahliannya tersebut kepada putranya, Mas Mukimin.

 

Sampai saat ini usaha kijing keluarga tersebut lebih banyak melayani pelanggan-pelanggan dari kalangan Keraton Yogyakarta dan kota-kota lain—Jakarta, Malang, Solo, atau Semarang.

 

Prayitno tidak pernah diajari secara khusus oleh ayahnya, Mas Mukimin. Tetapi ia bercerita bahwa kemanapun ayahnya pergi untuk keperluan pekerjaan kijing, ia selalu diajak. Sampai akhirnya sang ayah meninggal pada 1963. Pesan terakhir yang disampaikan kepadanya adalah supaya ia menjaga ibu dan mampu memberi tiang bagi rumah keluarga. Beberapa saat ayahnya pergi, Prayitno berusaha memenuhi amanat ayahnya itu dengan membuat tembok untuk rumah supaya tidak miring. Sampai kemudian ia menyadari bahwa maksud sebenarnya dari ayah adalah untuknya supaya meneruskan usaha kijing yang telah dirintis dari kakek tersebut.

 

Selain keluarga M Saman, di sepanjang jalan Gondomanan juga ada keluarga pembuat kijing yang lain. Misalnya keluarga Arjosupo. Anak tertua dari keluarga Arjosupo ini menjadi penerus membuat kijing di rumahnya yang terletak di belakang Polsek Gondomanan. Tampaknya usaha keluarga ini sudah tidak dilanjutkan lagi.

 

Pada tahun 1950-an, pemakaman Belanda itu masih tampak indah. Banyak patung-patung yang bagus, sejuk karena banyak pepohonan, sehingga Prayitno dan teman-temannya masih suka menggunakan tempat itu untuk belajar. Masih menurut cerita Prayitno, patung-patung di makam itu dibeli dari Italia. Sekarang sebagian kecil patung yang ada di makam itu bisa ditemukan di kampus Institut Seni Indonesia. Sayang akibat gempa yang menyerang Yogyakarta minggu lalu, ke-empat patung bidadari dari Kerkhoffen terbuat dari marmer putih yang ada di halaman kampus ISI tersebut terguling dan menambah kerusakan dalam tubuh patung-patung itu.

 

Pemakaman dan upacara kematian ternyata bagian aktivitas yang biasa dilakukan secara mewah oleh orang-orang Belanda.[23] Bagi pemerintah Belanda yang tinggal di Batavia misalnya, upacara kematian dikatakan sebagai upacara yang penuh gengsi dan kemegahan, juga pancaran keakraban. Peti mati, kereta jenazah, baju yang dipakai keluarga yang ditinggalkan, kenang-kenangan untuk para pelayat dari keluarga, kijing, kesemuanya merupakan sarana untuk menunjukkan kemewahan dan gengsi keluarga. Konsep keindahan dan kemewahan itulah yang membuat pemakaman Belanda ini indah dan tidak angker/menakutkan. Pada awal kehadiran kompeni, dikisahkan bahwa batu nisan banyak didatangkan dari Koromandel, tetapi kemudian dibuat sendiri oleh para pengrajin Batavia. Batu nisan yang mewah adalah yang mempunyai hiasan tepi terdiri dari rangkaian dedaunan dengan diselingi bunga-bunga. Perpaduan antara gaya pengrajin tradisional Jawa dengan tulisan tangan pahatan khas gaya Eropa. Gaya kijing ala orang-orang Indis.[24] Karena itu bisa dipahami jika M Saman yang pemahat kemudian menjadi pemahat tulisan papan nama dan kemudian mengembangkan usaha membuat kijing. Suatu jalur karir yang masuk akal.

 

Menarik untuk mencermati desain nisan-nisan—paling tidak dari sisa-sisa nisan lama yang masih ada di Sasana Laya. Gaya kijing Indis yang memadukan gaya tradisional—ukiran sulur dan bunga –dan pahatan tulisan gaya Barat, seperti dideskripsikan diatas tampaknya juga mengalami perubahan—seperti halnya rumah dan gedung perkantoran. Perubahan desain kijing ini lebih ke arah garis desain yang mengacu kepada garis dan model lekukan yang lebih tegas, elegan, dan kokoh. Mungkin juga perubahan model kijing ini dipengaruhi oleh  desain rumah atau bangunan yang sejaman dengannya.

 

Melihat kembali sisa-sisa makam Belanda, kijing-kijing yang serupa dengan model kijing Belanda itu banyak yang bertuliskan nama Cina. Apakah memang model kijing tersebut adalah mode kijing yang sedang populer saat itu? Dan jika demikian, apakah berarti memang kelompok Cina-lah yang mampu ikut menikmati mode kijing tersebut karena mungkin mereka kelompok yang mempunyai kemampuan ekonomi yang bisa menandingi orang-orang Belanda itu.

 

Usaha kijing M Saman tidak pernah membuat jenis kijing seperti orang Jawa yang biasanya dibuat dari batu hitam dengan dua buah cungkup diatasnya. Dan jika melihat model-model kijing yang dibuat oleh keluarga ini, dan kesinambungan desainnya dengan iklan pembuat kijing “Oesman” untuk makam Belanda di Jakarta[25], dan bentuk-bentuk kijing yang sampai sekarang dibuat, maka dapat dikatakan pengaruh kuat Belanda dalam desain kijing ini.

 

Di jalan Gondomanan juga pernah ada usaha pembuat kijing model Jawa dari batu hitam. Lokasi usahanya sekarang berada di samping Buana Fotocopy. Orang-orang sekitar biasa memanggil pembuat kijing Jawa ini dengan Pak Imo. Setelah Pak Imo meninggal, kediamannya berubah menjadi usaha persewaan becak “Pun”.

 

Selain kijing, jenis komoditas serupa yang juga dijumpai di Gondomanan adalah komoditas peti mati. Para penjual peti mati ini bisa berkelompok persis di seberang area bekas pemakaman Belanda. Menurut wawancara dengan Jemek Supardi, para pegawai makam Belanda yang biasa disebut dengan blegger memang bertempat tinggal di depan kompleks pemakaman tersebut. Dan sejak itulah katanya berkembang bisnis penjualan peti jenazah yang meniru model peti jenazah seperti biasa dipakai orang-orang Belanda. Modifikasi yang dilakukan oleh para penjual peti jenazah ini adalah peti jenazah yang dalamnya dilapisi kain putih berlipit-lipit.

 

Paska tahun 1965, terdapat usaha untuk menggunakan wilayah pemakaman tersebut sebagai terminal, tempat bis-bis luar kota ngetem, untuk berhenti sejenak menaikkan dan menurunkan penumpang. Dan karena itulah menurut cerita orang-orang baik, yang tinggal disana maupun yang sering melewati jalan itu, pada masa itu area itu memang tampak semrawut.

 

29 Desember 1967, tercatat sebagai hari pertama pembukaan taman hiburan rakyat. Taman Coka Kerkop namanya.[26]

 

Bandjirilah Taman Coka (THR) Kerkop Dibuka tgl 29 Desember 1967

 

Beramai-ramai untuk menghibur keluarga anda sambil beramal bergembira di hari-hari besar menjaksikan atraksi:

 

Panggung terbuka

Wayang orang Pantja Murti

Dagelan Mataram & Djapen Kodja

Bioskop dan sulap-sulapan mengerikan

Permainan anak-anak serta bermatjam lain pertundjukan

Malam tahun baru band dan wajang kulit semalam suntuk

 

Kesempatan membuka stand!!!

 

Begitulah. Yang tersisa dari pemakaman yang dulu megah itu hanya kenangan orang akannya dan sebagian kecil makam bertuliskan Sasanalaya di pintu gerbangnya di ujung belakang gedung THR Purawisata. Dan diatas bekas pemakaman itulah orang-orang bergoyang, mengikuti lagu yang dinyanyikan penyanyi dangdut diatas panggung setiap malam.

 

 

Bahan Bacaan

 

Koran/Majalah

 

Harian Kedaulatan Rakjat

Madjalah Merdeka

Mingguan Pesat

 

Buku

 

Knaap, Gerrit, Cephas, Yogyakarta: Photography in the Service of Sultan, KITLV Press, Leiden, 1999

 

Siregar, Ashadi, Kugapai Cintamu, PT Gramedia, Jakarta, 1978

 

Soekiman, Djoko, Kebudayaan Indis dan Gaya Hidup Masyarakat Pendukungnya di Jawa Abad XVIII – medio Abad XX, Januari 2000, Bentang, Yogyakarta

 

Toer, Pramoedya Ananta, Jejak Langkah, Februari 2001, Hasta Mitra, Jakarta

 

 

Terima kasih tak terhingga kepada:

Keluarga Besar Bapak M Saman dan Bapak Prayitno

Keluarga Besar Bapak Jemek  Supardi

Yayasan Seni Cemeti

Ruang Mes 56

Bambang Toko

Anton Subiyanto dan Anak Wayang Indonesia

Maria Tri Sulistyani

Mbak Neni, Mas Agung, Ratna (Kedai Kebun Forum)

 

 

 

 

Proses Proyek Gondomanan dalam Komik

 

Konsep          : Yustina W. Neni

Montase        : Ratna Mufida

 

[1]   Bapak Pucung/Pasar Mlati di sebelah selatan Desa Denggung/Desa Kricak terletak di bagian utara kota(negara)/Pasar Besar (Beringharjo) terletak di sebelah utara loji [loji gedhe = karesidenan dan rumah pembesar Belanda]/Belok ke timur tersesat di Gondomanan

[2]   Iklan Usaha Toko Sepeda “Tjong & Co”, Kedaulatan Rakjat, 7 April 1959, hal.4

[3]    Toer, Pramoedya Ananta, Jejak Langkah, Februari 2001, Hasta Mitra, Jakarta, hal. 6

[4]   Iklan Usaha Pasar Sepeda Wetan Benteng, Kedaulatan Rakjat, 23 April 1959, hal.4

[5]   Hal ini terungkap lewat obrolan dengan Bapak Jemek Supardi, pada 18 Mei 2006, dan wawancara dengan Bapak Prayitno, pada 20 Mei 2006

[6]   Iklan Produk Scooter Lambretta, Kedaulatan Rakjat, 21 Juli 1967, hal. 4

[7]   Iklan Acara Scooter Vespa, Kedaulatan Rakjat, 30 April 1959, hal. 4

[8]    Berita-foto Vespa Scooter Concours d’elegance, Kedaulatan Rakjat, 19 Mei 1959

[9] Siregar, Ashadi, Kugapai Cintamu, PT Gramedia, Jakarta, 1978, hal. 76-77

[10] Kedaulatan Rakjat, 19 September 1959, hal. 2

[11] Knaap, Gerrit, Cephas, Yogyakarta: Photography in the service of the Sultan, KITLV Press, Leiden, 1999, hal 12-13

[12] Siregar, Ashadi, Kugapai Cintamu, PT Gramedia, Jakarta, 1978, hal. 35-37. Novel ini berkisah tentang kisah cinta segitiga Faraitody, Irawati dan Widuri, dan mengambil latar belakang kehidupan kampus Universitas Gadjah Mada, Yogyakarta. Sebelum dibukukan, novel ini terlebih dulu hadir sebagai cerita bersambung di Harian KOMPAS.

[13] Iklan PT Pertjetakan Republik Indonesia, Kedaulatan Rakjat, 26 Agustus 1959, hal. 4

[14] Iklan percetakan “Sinar Asia”, Kedaulatan Rakjat, 22 Juli 1967, hal. 4

[15] Iklan penerbit “Pantja Sila”, Mingguan Pesat No 25, 13 September 1950, hal. 310

[16] Gethok Tular (bhs Jawa) artinya komunikasi personal dan informal dari satu orang ke orang yang lain

[17] Iklan Studio Foto “M Saman”, Kedaulatan Rakjat, 16 Agustus 1962, hal. 4

[18] Iklan Studio Foto “M Saman”, Kedaulatan Rakjat, 15 Agustus 1959, hal. 4

[19] Iklan Janry Color Photo Service, Kedaulatan Rakjat, 2 April 1959, hal. 4

[20] Knaap, Gerrit, op.cit, hal. 3-5

[21] Sukiman, Djoko, Kebudayaan Indis dan Gaya Hidup Masyarakat Pendukungnya di Jawa (Abad XVIII-medio Abad XX), Bentang, Yogyakarta, 2000, hal. 206

[22] Wawancara dengan Bapak Prayitno, 21 April 2006, di rumah keluarga M Saman, Jl Brigjend Katamso

[23]   Sukiman, Djoko, op.cit, hal. 160-165

[24] Sukiman, Djoko, op.cit, hal. 166-167

[25] Iklan nisan “Oesman” dalam Empat Tahun Sedjarah Indonesia dalam Gambaran, Madjalah Merdeka, Djakarta, 1949

[26] Iklan pembukaan THR Taman Coka Kerkop, Kedaulatan Rakjat, 29 Desember 1967

About kedai kebun

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *