Home / Aktivitas Agung / Membayangkan Kematian dan Kehilangan Agung Kurniawan dalam Peristiwa Teater

Membayangkan Kematian dan Kehilangan Agung Kurniawan dalam Peristiwa Teater

Proyek Peristiwa Teater: Hanya Kematian yang Setia Menunggu
15 Mei 2015, 19:30 di Auditorium IFI Yogyakarta

Sutradara: Agung Kuniawan
Penata musik: Frau
Puisi dan teks: Gunawan Maryanto
Performers: Frau, Gunawan Maryanto, Budi ND Dharmawan, Yosep Anggi Noen, Hahan, Mlenuk Voice

“Karena satu-satunya yang pasti dalam hidup kita nan absurd ini adalah kematian. Cinta, kesenangan dan kesedihan datang dan pergi, tapi kematian tidak, dia setia menunggu kita. Semua orang yang kita cinta perlahan pergi, bersijingkat meninggalkan kita, tapi kematian tidak. Dia setia menunggu bersimpuh di sudut yang paling gelap dalam ruang hidup kita, sehingga abadilah kita akan kehadirannya” –cuplikan puisi oleh Gunawan Maryanto dan Agung Kurniawan, dalam Buku Berhimpun Proyek Peristiwa Teater: Hanya Kematian yang Setia Menunggu.

Kematian seperti halnya perkara hidup lainnya adalah hal yang harus dihadapi. Namun dalam masyarakat pada umumnya, kematian dilihat sering dari satu sudut pandang: duka cita atau ujung kehidupan. Dalam karya teaternya ini, Agung Kurniawan menyilakanhadirin pertunjukannya untuk mengubah perspektif tentang ketakutan dan kesedihan akan kematian serta kehilangan: menghadapi kematian dengan cara yang wajar, akrab layaknya peristiwa harian yang dihadapi manusia. Melalui puisi-puisi karya Gunawan Maryanto dalam kidung yang dipersembahkan oleh Frau, ia coba menyajikan kematian sebagai sebuah peristiwa karib dan artistik yang menyentuh perasaan pemirsanya, yakni kebahagiaan atau kesedihan palsu. Pertunjukan yang penuh makna ini penampilan perdananya digelar untuk membuka perhelatan Printemps Français 2015 yang diselenggarakan oleh IFI Yogyakarta.

membayangkan kematian dan kehilangan(2)

Sumber: http://ifi-id.com

membayangkan kematian dan kehilangan(3)

Sumber: http://ifi-id.com
Dalam konferensi pers Printemps Francais 2015 di Pusat Kebudayaan Koesnadi Hardjasumatri (PKKH) UGM, pada Rabu, 13 Mei 2015, Agung menyatakan bahwa “Teater ini mengubah perspektif umum di banyak budaya tentang kematian.” Ia memberi satu contoh dalam tradisi Jawa, banyak ritual pelepasan yang mengiringi peristiwa kematian; dan bahwa dalam lingkungan keraton di jaman yang lalu sering dipersiapkan karya sastra untuk menyambut kematian orang yang terhormat, bahkan sebelum peristiwa yang sebenarnya. “Di sejumlah budaya dan keyakinan agama, kematian selalu dianggap sesuatu hal yang sangat penting, sama dengan peristiwa kelahiran,” ujarnya. Ia juga menekankan akan hal partisipatoris dalam karyanya, “Kami juga akan mengadirkan teater dengan interaksi kuat antara pemain dan penonton.”

Pertunjukan ini dihadirkan Agung Kurniawan sebagai sebuah ‘peristiwa’ gladi resik misa a la kebaktian dalam gereja katolik, sebuah tata cara upacara kematian yang terstruktur untuk dirinya sendiri dan menjadikan penontonnya menjadi ‘umat’, aktor dari pertunjukkan tersebut. Pertunjukkan ini berlangsung selama 90 menit, dibagi menjadi dua bagian yakni sebuah simulasi untuk gladi resik, dan gladi resik yang sesungguhnya dengan jeda di tengah keduanya. Agung memang sering mengajak pemirsanya untuk ikut menjadi bagian dari pertunjukan dalam karya-karyanya yang lalu.

membayangkan kematian dan kehilangan

Foto oleh Adi Adriandi
Sumber: https://pbs.twimg.com/media/CFD_uEDUUAA-LmL.jpg

membayangkan kematian dan kehilangan(1)

Sumber: https://tularasaakademie.files.wordpress.com/2015/05/wpid-img_20150515_193826.jpg
Dalam teater ini, Agung mengarahkan para penonton untuk ikut membaca lirik dalam liturgi tersebut, setelah dibacakan oleh beberapa performer utama. Salah satu performer, Frau, menyanyikan beberapa kidung antara lain “So Long Marriane”, “Menunggu” dan “Berhimpun untuk Berpisah” untuk mengiringi prosesi ini, dan pertunjukan memuncak ketika Agung Kurniawan menanggalkan baju yang ia kenakan satu persatu dan memasukkan ke dalam kotak. Hanya dengan memakai celana dalam, Agung mengajak penonton bersama-sama berjanji untuk hadir dalam upacara kematiannya yang sesungguhnya suatu hari nanti.

Agung membuat ‘umat’nya merasakan bayangan akan kematian serta kehilangan dirinya lewat lirik puisi, melodi iringan dan narasi dari Buku Berhimpun yang diberikan Agung pada awal pertunjukan yang ia susunbersama penyair Gunawan Maryanto. Buku ini mirip buku panduan umat dalam liturgi-liturgi di gereja. Sehabis pertunjukan, Agung memberikan 47 sketsa aslinya kepada para penonton secara acak. Beberapa dari sketsa ini bisa dilihat di instagram dengan hastag #bukuberhimpun, begitu pun respon dari para penonton tentang pertunjukan ini. Pertunjukan teater ini juga telah direkam dan rencananya akan dirilis dalam bentuk piringan hitam oleh Nirmana Records. (Sita Sarit)

membayangkan kematian dan kehilangan(4)

 

Sumber: http://Instagram.com
Sumber:
http://www.ifi-id.com/yogyakarta/proyek-peristiwa-teater-hanya-kematian-yang-setia-menunggu
https://m.tempo.co/read/news/2015/05/14/114666340/teaterbertemakematianbukafestivalseniprancis
http://www.warningmagz.com/2015/05/16/printemps-francais-2015-dibuka-dengan-upacara-kematian/
https://dalamnamadiaz.wordpress.com/tag/hanya-kematian/
Review: Peristiwa Teater “Hanya Kematian Yang Setia Menunggu

About kedai kebun

Check Also

Performa Otomat

Pergeseran medium dari gambar ke performans dalam karya Agung, meskipun telah terasa semenjak tahun 2009, …

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *