Home / Aktivitas Agung / Cultural Stakeholders Meeting Asia

Cultural Stakeholders Meeting Asia

Agung Kurniawan, sebagai perwakilan Indonesian Visual Arts Archieve (IVAA) Yogyakarta dalam Pertemuan Stakeholders Kebudayaan se Asia (Cultural Stakeholders Meeting Asia) sebagai rangkaian kegiatan Pengembangan Budaya dan komunitas Sipil di Asia (Cultural and Civil Society Development in Asia), pada tanggal 14 – 16 Desember 2008, di Bangalore, India. 

Video ini dibuat sekitar tiga tahun yang lalu dalam sebuah proyek seni di KKF yang berjudul September Something. Proyek ini berangkat dari ide bagaimana anak muda memahami sejarah. Proyek ini adalah upaya untuk memetakan peristiwa pembantaian kaum komunis di Indonesia pada tahun 1965 dengan mengambil sudut pandang anak muda yang lahir pada masa kejayaan orde baru di Tahun 80-an. Pilihan pada anak muda itu didasari alasan bahwa sebagian besar anak muda itu telah “dicuci otak”.  Buku-buku sejarah yang mereka baca disekolah telah diseleksi sedemikian rupa oleh Pusat Kajian sejarah Angkatan Darat dengan meniadakan pembantaian kaum komunis dari buku sejarah. Selain kontrol ketat, pada tahun 80 sampai dengan tahun 90-an pemerintah mengharuskan semuan anak sekolah untuk melihat film pemberontakan kaum komunis versi pemerintah. Dan setelah itu pada tiap satu Oktober semua stasiun teve diwajibkan memutar film ini.

Dan itu semakin paradoksal dengan kenyataan bahwa anak muda Indonesia adalah golongan yang paling haus informasi. Mereka memperoleh begitu banyak informasi dari luar; gaya rambut, lagu baru, celana jeans dengan jahitan khusus dan lain sebagainya. Tapi untuk perkara pembantaian 65, nihil. Tak ada satupun informasi yang tersedia, sehingga praktis tidak ada kertertarikan sama sekali. Mengingat masifnya korban yang terjadi; angka yang paling moderat adalah 500.000 orang dalam satu bulan, angka yang dirilis oleh lembaga internasional bahkan sampai pada satu juta orang. Belum lagi dengan akibat lanjutan dari pembantaian itu, semisal penempatan para survival (orang-orang terindikasi komunis namun tidak sempat dibunuh) di penjara di pelosok Jawa (tanpa pengadilan) dan sebagian di Gulag Tropis, Pulau Buru. Selain itu penghilangan hak untuk bekerja di instasi pemerintah dan bekerja pada beberapa sector pekerjaan (guru, pendeta) bagi keturunan dan keluarga dekatnya. Maka Amnesia itu terutama pada anak muda sungguh luar biasa!

Bagaimana respon anak muda itu pada sebuah peristiwa yang benar terjadi akan tetapi mereka tidak pernah menemukan jejaknya di mana-mana. Mereka tahu orang tua mereka membicarakan pembantaian ini dengan sangat hati-hati. Di sebagian wilayah kata komunis sama sekali terlarang diucapkan dan penduduk lokal menggantikannya dengan kode jari melengkung yang membentuk tanda sabit. Pameran yang menggunakan berbagai medium itu adalah jawaban dari pertanyaan di atas.

Mengingat sebagian besar seniman yang diundang tidak pernah tahu bahwa peristiwa itu ada, maka pameran disepakati di mulai dengan semacam workshop.  Workshop di mulai dari “tugas” untuk mencari benda-benda yang dibuat pada era tahun 60-an. Kami memutuskan untuk bertindak sebagai seorang arkeolog. Mencari artefak dan kemudian mencoba menganalisa konteksnya. Dan artefak-artefak itu tidak hanya benda akan tetapi bisa juga berupa cerita lisan seperti halnya temuan jari membentuk sabit. Salah satu temuan yang juga menarik adalah sebuah piringan hitam yang di buat pada tahun akhir 60an. Cover PH itu bertuliskan serangkaian lagu, termasuk sebuah lagu yang berjudul genjer-genjer (sejenis tanaman liar yang tumbuh di rawa seperti rumput) dengan sebuah catatan dengan tulisan tangan: berbahaja (berbahaya) disampingnya, sepertinya pemiliknya ingin mengingatkan supaya lagi ini tidak boleh didengar karena berbahaya.

Temuan artefak-artefak itu kemudian dikumpulkan dan di perbincangkan. Berbagai pertanyaan muncul salah satunya adalah: Mengapa sebuah lagu dilarang? Rezim apakah yang takut dengan sebuah lagu dansa?

Dari perbincangan itulah pelan-pelan masa lalu yang tertutup di buka dan dibicarakan. Pameran ini sendiri berlangsung pada tahun 2005, beberapa tahun setelah rezim yang takut dengan lagu dansa itu runtuh. Akan tetapi ketakutan untuk mengangkat, mendiskusikan, dan memperdebatkan peristiwa itu tetap ada. Pameran dengan tema-tema sejarah seperti ini adalah salah satu cara untuk untuk melihat trauma sosial dengan cara yang berbeda, bukan secara frontal akan tetapi melingkar, meliuk-liuk akan tetapi tetap pada satu sasaran yang sama; bagaimana generasi yang lebih muda berdialog dengan masa lalu yang dianggap tidak pernah ada.

Kerja dengan masa lalu ini tidak hanya dilakukan oleh satu pihak saja. Sebagian aktifis di Indonesia menganggap masa lalu terlalu penting untuk dikerjakan oleh oleh para politisi dan akademisi. Mengingat mereka; kaum politisi dan akademisi, adalah bagian dari rezim penguasa. Perlu diingat tidak pernah ada rezim yang dapat bertahan sebegitu lama jika tidak ada dukungan dari para politisi di parlemen dan akademisi di kampus-kampus. Sehingga membiarkan mereka dengan sejarah di tangan adalah kebodohan atau keteledoran intelektual.

Agenda untuk “merebut” interpretasi sejarah dari tangan mereka adalah urgent. Salah satu cara yang dipakai adalah menggunakan galeri dan ruang seni untuk mempopulerkan ide sejarah alternatif itu.

Sejarah alternatif kurang lebih adalah sebuah upaya untuk melihat sejarah dari perspektif korban, orang kebanyakan atau golongan yang dianggap oleh penguasa sebagai orang yang tidak punya kemampuan untuk membuat sejarah. Kepentingan dari upaya ini adalah untuk memberi warna, mendekonstruksi, atau merekonstruksi sejarah untuk mendapatkan semacam hak untuk bersuara, memperoleh identitas dan nilai tawar politis. Bagi negara dengan banyak keragaman identitas, sebuah identitas meski semu, adalah modal untuk melakukan tawar menawar. Ini adalah sebuah tindakan politis dengan konsekuensi-konsekuensi tertentu. Oleh karena sejarah alternatif adalah garis depan terakhir dari perang melawan lupa.

Sebuah lembaga yang digerakkan oleh semangat untuk melakukan dokumentasi dan analisa atas data yang terkumpul adalah salah satu instrumen dalam perang melawan lupa. Hidup dalam masyarakat yang amnesia seperti Indonesia ini, berpegang pada data atau catatan sangatlah penting.

Dalam perkembangan seni rupa modern Indonesia sejaak awal abad ke 20 sampai sekarang, masa emas pencatatan wacana dan kegiatan seni adalah pada tahun 50 sampai dengan 60 an. Waktu itu banyak sekali media, sekalipun dicetak dengan sederhana mencatat perkembangan wacana yang terjadi. Seni rupa dan nasionalisme, tahun 40 dan 50 an, seni rupa kiri dan abstrak tahun 60 an dan lain sebagainya. Pencatatan wacana dan perkembangan seni rupa melalui media mengalami penurunan justru pada era Orde Baru, (1965-1998) saat ketika Indonesia secara ekonomi dapat dikatakan makmur. Sekarang di tengah maraknya pasar seni lukis, majalah-majalah seni rupa mulai juga bermunculan. Perbedaan mendasar dengan media seni di tahun-tahun sebelumnya adalah pada ketertarikannya; sekarang media seni rupa berkutat pada persoalan balai lelang dan blue chip painting.

Dan meskipun ada banyak media seni rupa akan tetapi karakter yang serupa membuat pilihan menjadi sangat terbatas. Belum lagi pemilik dari majalah-majalah itu adalah juga pelaku pasar seni rupa; art dealer, pengelola balai lelang, dan pemilik galeri. Jadi kepentingan dari adanya media itu adalah untuk memperkuat nilai tawar ekonomi galeri atau kepentingan mereka sendiri bukan idealisme sama sekali.

Dalam konteks sekarang inilah IVAA setelah berubah dari Yayasan Seni Cemeti (YSC) tumbuh. YSC tumbuh di masa ketika senirupa adalah bagian dari semangat jaman untuk melawan fasisme. Seni rupa hidup dengan mimpi para aktifis, perubahan. Ada passion dan daya hidup yang luar biasa. Kegairahan itu terbentuk dalam berbagai proyek dengan cakupan jaringan yang luas. Mulai dari jaringan antar lembaga lokal sampai jaringan internasional dengan imbas publikasi yang juga cukup besar.

IVAA tumbuh dalam era fasisme pasar. Tantangannya adalah bagaimana menemukan strategi baru untuk memberi alternatif atau pilihan bahwa menjadi perupa atau bergerak di senirupa tidak melulu berkutat dengan kalkulator dan indeks saham. Seni rupa dengan segala perniknya adalah upaya untuk melihat dan menganalisa perubahan sosial yang terjadi untuk melakukan analisa, pemetaan atau semata pelaporan. Selain “berguna” bagi kalangan seniman lembaga data adalah tempat bagi stake holder seni lain semisal: mahasiswa, kritikus, agen, kurator, guru dan lain sebagainya.

IVAA sebagai salah satu lembaga dokumentasi seni rupa di Asia tumbuh dengan tantangan baru, yang tidak ringan. Tantangan pertama adalah situasi politik yang berubah. Ciri lembaga yang didirikan oleh aktifis seni di Indonesia adalah social engagement  yang kuat. Ketika situasi sosial berubah maka dibutuhkan pendekatan baru atas situasi itu. Perubahan strategi, dari sebuah lembaga yng sudah mapan dengan strategi lamanya, adalah masa yang genting. Saat ini menentukan strategi yang tepat akan menentukan masa depan IVAA selanjutnya.

Tantangan ke dua adalah bagaimana membuat awareness stake holder seni bahwa data dan pendataan adalah vital bagi perkembangan senirupa yang sehat. Untuk terus mengingatkan persoalan itu maka diperlukan kiat yang tepat dan genuine mengingat pada kekhasan area kerja. Tantangan ke tiga adlah bagaimana menemukan strategi pendataan dan dokumentasi yang khas. Mengingat konteks yang berbeda, selain pendataan yang formal, dibutuhkan item data yang spesifik untuk membedakan antara lembaga data yang lain di negara lain. Perbedaan item, spesifikasi nantinya akan menjadi nilai tawar bagi IVAA ke lembaga serupa di tempat lain; semisal Hongkong atau Jepang.

Agung Kurniawan / Direktur Artistik KKF, 1996 – sekarang / Anggota Dewan IVAA, 2004 – sekarang

About kedai kebun

Check Also

Actus Contritionis, Citraan Bayang-bayang Ingatan

Sumber: http://umahseni.com Umah Seni, Jakarta, pembukaan pameran 5 Mei 2012 — Karya-karya teralis atau kisi-kisi …

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *