Home / Aktivitas Agung / Becom(ing) Dutch

Becom(ing) Dutch

Agung Kurniawan, Direktur Artistik KKF, sewaktu berpameran di Museum Vanabbe, Belanda, pada bulan Juli – September 2008

dua patung ini adalah potret seorang sultan jawa dan seorang residen (semacam gubernur) di jawa pada pertengahan abad ke 19. Foto-foto resmi mereka selalu dalam keadaan saling bergandengan tangan. Sekarang mungkin terlihat aneh, dan itu juga terasa aneh seratus tahun yang lalu.  Tidak jamak  dua orang lelaki bergandengan tangan,  apalagi dalam sebuah  foto resmi. Apakah Anda pernah membayangkan  George Bush dan  Toni Blair bergandengan tangan dalam foto-foto resmi mereka?
Ketika memasukkan patung itu ke dalam kotak untuk dikirimkan ke Belanda, asistan saya- seorang seniman muda yang ingin sekali  menjadi seperti saya (kaya, dan punya  kesempatan pergi ke luar negeri)- mempunayi ide yang cukup brilian. Dia ingin masuk ke dalam kotak karya. Dengan naik pesawat terbang, dia bisa bertahan di kotak itu. Awalanya saya anggap itu yang ngawur. Tapi dia mengatakan dengan sangat yakin,” beri saya sekotak mie instan dan air mineral dengan itu cukuplah untuk hidup selama seminggu di kotak karya”. Saya mulai berpikir itu sesuatu yang mungkin. Pertama dia belum pernah ke luar negeri masuk ke dalam kotak mungkin adalah salah satu cara yang paling masuk akal. “Saya akan berpura-pura menjadi patung ketika di X ray”.
Ke dua dengan cara itu ia tak perlu membuat visa dan menunggu selama sebulan untuk mendapatkannya.

Tapi entah mengapa ketika saya memutuskan untuk menerima idenya dia tidak pernah berani masuk ke dalamnya. Saya tidak pernah menanyakannya lagi. Saya kira istrinya tak setuju. Mungkin membuang uang dengan membeli sekotak mie instan adalah perbuatan sia-sia. Istrinya bisa jadi memilih membeli beras dari pada menuruti mimpi suaminya.

Sekarang dia menjadi sedikit pendiam, mimpinya terbang ke Belanda bisa jadi tingggal impian. Saya sedih tidak dapat membantunya, dengan mengirimnya lewat kotak karya setidaknya seni saya bisa berguna. Paling tidak bisa membawanya  mengunjungi Belanda secara gratis.

2. Saya tidak pernah membuat video seni. Saya pikir itu seni yang tidak komunikatif dan terlalu eropa sentris. Saya pikir video art hanya cocok untuk seniman yan tidak punya ruang cukup besar untuk dijadikan studio. Tapi entah kenapa saya putuskan untuk membuat video setidaknya untuk terlihat seperti seniman kotemporer kebanyakan.
Saya dibantu oleh seniman sahabat baik selama bertahun-tahun. Dia sedang jatuh cinta pada seorang wanita yang sudah punya pacar ketika mengerjakan karya video ini. Selama di studio kami selalu mendengarkan James Blunt “you so beautiful,…” berulang-ulang, dengan harapan pacar orang lain itu –yang juga bekerja di tempat yang sama– mendengarkan dan mau diajaknya berkencan. Waktu itu panas sekali, keringat kami mengalir ke mana-mana. Ac di ruang itu mati, James blunt sungguh tidak menolong.

Setelah menyelesaikan editing video itu dia minta segara di bayar, uangnya akan segera dipakainya untuk membeli hadiah untuk pacar orang lain itu. Saya mengatakan kenapa engkau membelikan hadiah untuk pacar orang lain, dia mengatakan untuk membuatnya kelihatan lebih cantik, itu sudah membuatnya senang.

Saya terharu dengan apa yang dikatakannya. Saya merasa seni saya berguna sekarang, setidaknya  untuk  membuat  sahabat dan pacarnya yang pacar orang lain itu bahagia.

Saya merasa sekarang ini video art itu lebih berguna daripada seni instalasi dan patung.

About kedai kebun

Check Also

Actus Contritionis, Citraan Bayang-bayang Ingatan

Sumber: http://umahseni.com Umah Seni, Jakarta, pembukaan pameran 5 Mei 2012 — Karya-karya teralis atau kisi-kisi …

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *