Indonesia | English

Agung Kurniawan dalam Simposium 4 hari “The Making of the New Silk Roads”, Diselenggarakan oleh Arthub Asia, 27 – 30 Agustus 2009, Bangkok, Thailand

By • Sep 19th, 2009 • Category: Aktivitas Agung

Agung Kurniawan, Direktur Artistik Kedai Kebun Forum, diundang oleh Arthub Asia, menjadi peserta dalam symposium selama 4 hari, bertema “Pembuatan Jalan Sutera Baru” pada tanggal 27 – 30 September 2009 lalu, di Bangkok Thailand. Bersama-sama dengan Agung, ada 2 orang Indonesia lainnya yang juga turut diundang menjadi peserta, yaitu Arahmaiani (Seniman Performance Art) dan Agung Hujatnikajenong (Kurator) yang mengajak rekannya Jompet Kuswidananto (Seniman Performance Art).

arthub-symposium-silk-road-august-2009-4.jpg  arthub-symposium-silk-road-august-2009-6.jpg  arthub-symposium-silk-road-august-2009-5.jpg  arthub-symposium-silk-road-august-2009.jpg

Artikel di bawah ini diambil dari press-release ArtHub Asia di Artipedia : http://artipedia.org/artsnews/exhibitions/2009/09/09/arthub-presents-the-making-of-the-silk-roads/

The Making of the Silk Roads
Bangkok, August 27-30, 2009
www.arthubasia.org

 Bersama:
Ark Fongsmut, kurator independen,  Galeri Universitas Bangkok, Thailand, Agung Kurniawan, seniman/kurator, Indonesia, Alexander Ugay, seniman, Kazakhstan, David Cotterrell, seniman, UK, Els Silvrants, Kurator, Belgia/Beijing Theatre in Motion, Gary Pastrana, Seniman, Filipina, Ho Tzu Nyen, seniman, Singapura, Howard Chan, Seniman/Kurator, Hong Kong, Arahmaiani, Seniman, Indonesia, Jiang Jun,  Urban Cina , Beijing Cina, Kyong Park, Arsitek, University of California US, Korea, Lina Saneh seniman, Lebanon, Mu Qian,  Etnomusikolog , Cina, Nikusha Chkhaidze (Nika), Seniman, Georgia, Onno Dirker, Seniman/Artsitek/Peneliti, Belanda, Pratchaya Phinthong, Seniman, VER Gallery , Thailand, Rahraw Omarzad Seniman, Afganistan, Samah Hijawi , Seniman, Space Makan, Jordania, Shaarbek Amankul, Seniman, Kyrgyzstan, Stefan Rusu,  Seniman / Kurator freelance, Center for Contemporary Art, Chisinau , Moldavia, Hakan Topal, Seniman Xurban.net, Turki, Seph Rodney, Kandidat Ph.D di Universitas London- Birkbeck College, Inggris, Veronica Sekules, Kepala Pendidikan di Sainsbury Centre, Inggris, Adeline Ooi,  kurator and penulis tentang kesenian, RogueArt, Kuala Lumpur, Malaysia, Agung Hujatnikajennong, Seniman, Indonesia, Zoe Butt, Kurator, Long March Project, Beijing/Asia Tenggara (berkolaborasi dengan Erin Gleeson, Rattana Vandy, Nguyen Trinh Thi; dalam pertunjukan oleh Le Huy Hoang), Supersudaca, arsitek/artist collective, Amerika Selatan/Belanda, Edwin Zwakman dan Liu Gang (Belanda/Cina), Speedism, collective, Belgia/Jerman, Supersudaca, arsitek/artist collective, Thailand dan lain-lain…

arthub-symposium-silk-road-august-2009-3.jpg  arthub-symposium-silk-road-august-2009-9.jpg  arthub-symposium-silk-road-august-2009-1.jpg

Lebih dari 30 mahasiswa, seniman, dan praktisi ternama dalam bidang seni visual, pertunjukan, dan bidang kesenian lainnya dari seluruh dunia berkumpul bersama di Bangkok untuk menguji dinamika, gaung yang berkelanjutan tentang rute perdagangan Jalan Sutera dalam simposium selama 4 hari, bertema “Pembuatan Jalan Sutra Baru” dari tanggal 27 s.d. 30 Agustus 2009 lalu. Acara ini diorganisir oleh ArtHub, yayasan non-profit berbasis di Hong Kong yang didedikasikan untuk mempromosikan kreasi kesenian Cina dan seluruh Asia. Simposium ini dimaksudkan untuk menaksir kembali hubungan yang kompleks dalam budaya Asia dan spektrum artistik di awal abad 21. Acara ini bertempat di Bangkok University Gallery (Galeri Universitas Bangkok), bekerja sama dengan Prince Claus Fund, Bangkok University, National Research Center of the Kingdom of Thailand, dan didukung oleh Mondriaan Foundation dan ANA (Singapura), pada acara puncaknya menampilkan peserta “kolaborasi intelijen” Arthub dari seluruh penjuru Asia , termasuk Cina, Thailand, Indonesia, Malaysia, Filipina, Hong Kong, Singapura, Turki, Georgia, Afganistan, Kyrgyzstan, dan Kazakhstan, dan selain itu, bersama-sama dengan peserta tambahan dari Program Prince Claus Fund Network Partnership.

Program empat hari ini menampilkan diskusi tentang sharing pengalaman, pengujian kecepatan pembangunan terbaru di Asia, diantaranya tentang karakter, isu-isu, dan medianya, dan program ini juga menyediakan forum menarik tentang gaung berkelanjutan yang dinamis dari rute perjalanan kuno Jalan Sutera dalam dimensinya yang berlapis-lapis. Dengan mengusulkan Jalan Sutera sebagai variable metafora untuk sebuah hubungan yang tidak stabil, dan menjadikannya sebagai titik tolak cerminan pemandangan budaya Asia. Arthub bertujuan untuk mengusung hal tersebut dengan mengundang para seniman, kurator, dan pemikir dari sudut pandang yang berbeda-beda sehingga mengajak para pembicara, peserta, dan penonton bersama-sama mengekplorasi, menantang, mengartikulasikan, atau memupuk kemungkinan-kemungkinan respon performatif terhadap simbolisme Jalan Sutera yang terencana dengan sangat matang. Setiap peserta akan mempresentasikan karya seni/presentasi/instalasi yang spesifik, yang mana keduanya menyiratkan  kemungkinan penceritaan tentang kondisi spesifik masing-masing dari mereka, atau konteks khusus seperti isu-isu sirkulasi budaya, praktek sosial/politik, dan lokasi pasar serta pengujian ide potensi Jalan Sutera bagi pencangkokan budaya di lintas Asia secara general.

Tergabung dalam serangkaian karya-karya yang baru-baru ini dibuat khusus, termasuk instalasi, ceramah, pertunjukan TV, wawancara radio dan publikasi, simposium kolaboratif ini menempatkan penekanan khusus pada orientasi proses, penelitian, dialog tentang posisi artistik di Asia. Arthub bermaksud untuk menginspirasi bentuk-bentuk baru dari eksperimen-eksperimen artistik dan estetika di Cina dan negara-negara Asia lainnya melalui pengamatan terhadap respon-respon baru, penciptaan dialog berbulan-bulan sebelumnya untuk simposium, dan memungkinkan munculnya sebuah alternatif dalam kondisi/situasi, untuk mempelajari isu-isu budaya dinamis oleh si pelakonnya sendiri. Arthub juga bertujuan untuk mengkaji ulang gagasan yang diajukan mengenai pergulatan budaya satu dengan “lainnya”, dan  mengubah pergulatan ini menjadi generator bagi impuls-impuls baru untuk analisa proses historis yang rumit dalam sistem kultural di Asia. Simposium akan didokumentasikan dalam bentuk video, film, dan katalog. Hasil dari simposium ini nantinya akan dibuat menjadi pameran keliling pada tahun 2010, dan pada waktu pameran tersebut masih terbuka untuk negosiasi dan pembentukan ulang.

Simposium ini dikelola oleh Arthub, yaitu Davide Quadrio, Defne Ayas, dan Ark Fongsmut, dan dikoordinasi oleh Monvilai Rojanatanti.

Dengan mendukung penciptaan seni kontemporer di China dan negara Asia lainnya, Arthub adalah sebuah tampungan ide kreatif, sebuah laboratorium penciptaan kolaborasi, dan sebuah ajang penelitian bagi kesenian dan gagasan baru, proyek-proyek dan dialog progresif dalam hal seni visual dan media baru. Terinspirasi oleh kesempatan yang dihasilkan oleh kumpulan kecerdasan para pemikir  di semua media. Arthub berkomitmen untuk melanjutkan eksperimen, penciptaan pengetahuan dan penganekaragaman di antara seniman-seniman yang berdedikasi, pekerja seni, dan organisasi kesenian di Asia.

press@arthubasia.org

(Keseluruhan foto-foto ini diambil dari koleksi dokumentasi ArtHub Asia dan koleksi foto Jompet Kuswidananto/Agung Hujatnikajenong)

arthub-symposium-silk-road-august-2009-7.jpg  arthub-symposium-silk-road-august-2009-8.jpg

Bangkok,…

Bangkok rasanya seperti Jakarta saja. Suhu yang panas dan lembab, ketika saya datang tiba-tiba saja hujan deras mengguyur, hujan selamat datang kata seorang teman. Saya datang ke Bangkok diundang oleh panitia seminar peformatif yang berbasis di Bangkok. Dua orang kuratornya Davida Quadrio dan Defney Anas mengundang sejumlah seeniman, kurator, penulis dan seniman-kurator seperti saya. Seminar itu sendiri diadakan di sebuah galeri milik Bangkok University gallery (BUG). Panitia menata galeri bak sebuah kelas, lengkap dengan bangku anak-anak dan sejumput kapur tulis. Tema utamanya adalah “Making a New Silk Road” kurang lebih membicarakan hubungan antar negara Asia dengan salah satu pusat pembicaraan China dan pengaruhnya pada negara-negara disekitarnya.

Seminar empat hari itu berjalan dengan irama naik turun, sebagian terasa membosankan, sebagian lagi sangat menarik. Sebagai sebuah seminar yang dirancang untuk bersifat peformatif maka peserta memang menyiapkan sejumlah cara untuk membuat presentasinya menjadi lebih enak dilihat. Peserta yang berasal dari beberapa negara Asia semisal: China, Khazaksthan, Urbekhiztan, Yordania, Afghanistan, Hongkong  , Indonesia, Singapura, dan beberapa wakil dari negara-negara Eropa membuat lingkup bahasan menjadi beragam. Agak sulit untuk mencari track antara satu pemapar dengan pemapar yang lain, tapi memang semangat dari seminar ini adalah mencari relasi-relasi yang tak nampak atau kesamaan-kesamaan yang bersifat archetype dari berbagai latar belakang itu. Diharapkan dari berbagai presentasi itu didapatkan jalinan kerja sama baru yang akan terjadi di masa depan.

Bangkok adalah kota yang punya ciri selayaknya kota-kota besar di Asia Tenggara; ramai, riuh dan juga macet. Keberadaan transportasi cepat berupa kereta monorail memang sangat membantu. Dibanding dengan kedatangan saya di tahun 90an akhir, Bangkok sekarang terasa lebih “lapang”.  Macet, tapi dibanding ketika pertama kali saya datang kemacetan ini terasa lebih manusiawi.  Saya mendapat pengalaman istimewa ketika berada di Bangkok. Ketika sedang sibuk mencari oleh-oleh dimenit-menit terakhir kami di ”serang” banjir. Banjir pertama dalam sejarah kehidupan saya sebagai manusia! Dan para kecoak itu melata ke dalam dinding kafe tempat kami berteduh sekaligus makan malam, terbang ke sana ke mari. Surealistis, karena para pegawai kafe dan pengunjung tampak menikmati. Tak terbayangkan kalau itu terjadi di Jogjakarta pasti telah menjadi skandal, setidaknya para turis itu akan berteriak ketakutan. Banjir sedengkul itu membuat kami tertahan cukup lama. Akan  tetapi esok paginya kami harus pulang dengan pesawat paling pagi, maka tidak ada cara lain selain menerobos banjir dengan sepatu kulit kesayangan.

Agung Kurniawan


Comments are closed.