Indonesia | English

Agung Kurniawan dalam Pameran “Beyond the Dutch” – Centraal Museum Utrecht, 15 Oktober 2009 s.d. 3 Januari 2010

By • Mar 22nd, 2010 • Category: Aktivitas Agung

cermin-raden-saleh-19-rz.jpg

SAYA, RADEN SALEH, dan HAJI PRINCEN
Latar Belakang Karya Saya untuk Pameran “Beyond the Dutch” di Centraal Museum Utrecht, 15 Oktober 2009 s.d. 3 Januari 2010

cermin-raden-saleh-11-rz.jpg  cermin-raden-saleh-8-rz.jpg  cermin-raden-saleh-14-rz.jpg  cermin-raden-saleh-20-rz.jpg

Karya tentang Raden Saleh saya buat sebagai bagian dari serangkaian seri pengkhianatan kaum intelektual yang mulai saya kerjakan pada tahun 2003. Seri itu dimulai dari pembuatan manuskrip buku The Dictionary of Sexual and Politics (2003, koleksi galeri nadi, Jakarta), Buku mewarnai (2003, koleksi pribadi), Museum soekrodimedjo (karya kolaborasi, 2006) dan kemudian Raden Saleh atau Buruk Muka Cermin dibelah (2008, koleksi Universitas Sanata Dharma).

Sering dianggap sebagai seorang pahlawan dan perintis seni rupa modern Indonesia, dia adalah seorang tokoh yang kompleks. Bingung. Karena hidup yang harus memilih antara tanah Jawa, tempat ia dilahirkan, dan Eropa tempat ia di”besarkan” dari satu kastil ke kastil lainnya. Sebagai orang Jawa yang hidup dalam fase perang Jawa (1825 – 1830) pilihan politik untuk menjadi jawa atau bukan seharusnya sudah jelas, setidaknya gampang. Tapi tidak untuk Bustaman. Dia memilih Ratu Belanda sebagai tempat ia ngindung karena disanalah dia mendapat keamanan sosial dan ekonomi. Saya melihat situasi itu berlaku juga sekarang. Di jaman Suharto dan jaman apapun, intelektual itu berkumpul di pusat kekuasaan berada. Tempat di mana mereka selalu diterima.

Karya Raden Saleh sengaja saya tempatkan di sebuah kamar mandi rektorat Univ Sanata Dharma sebuah universitas Katolik. Aneh tapi nyata, intelektual Katolik punya pengaruh kuat dalam pembentukan mesin kekuasaan orde baru. Bisa dikatakan mereka adalah think thank nya, otaknya. Dengan menempatkan foto seorang intelektual yang berkhianat atas rakyatnya di ruang yang selalu dikunjungi dosen dan civitas akademika. Mereka akan bercermin dan melihat wajah mereka, diantara wajah mereka tertera teks dari seorang perintis seni rupa modern Indonesia. Sebuah kredo seorang pengkhianat dan perintis seni rupa modern Indonesia. Seni rupa Indonesia yang juga kemudian berkhianat.

Seniman adalah intelektual, mereka adalah pengkhianat terbesar termasuk di dalamnya saya sendiri.

Haji Princen adalah seorang belanda totok yang lahir di tempat yang salah. Dibesarkan dalam sebuah keluarga eksentrik di Belanda dan kemudian terpaksa berlayar ke sebuah negara tropis yang selalu menjadi bayang-bayang belanda modern. Datang sebagai seorang tentara untuk memburu para teroris di Indonesia. Jatuh cinta pada Indonesia melalui wanita-wanitanya, melalui komunitas senimannya, dan akhirnya memilih menjadi orang Indonesia meski harus mendapat kecaman keras dari teman-teman Belandanya. Poncke si pengkhianat, atau Poncke si penyelamat akal sehat bangsa Belanda?

Karya saya berupaya mengembalikan kembali Raden Saleh pada negaranya, Belanda. Selain itu saya mem-barter-nya dengan Haji Princen. Kamar kecil Museum central Utrecht bisa jadi adalah tempat yang tepat, karena ini adalah monumen untuk orang yang dilupakan, jadi di sinilah mereka seharusnya dinobatkan sebagai pahlawan; di kamar kecil tempat kita membuang sampah-sampah kita.

cermin-raden-saleh-25-rz.jpg  cermin-raden-saleh-15-rz.jpg  cermin-raden-saleh-16-rz.jpg

Comments are closed.