Home / Aktivitas Agung / Agung Kurniawan dalam Jakarta Biennale 2015: Pelacur-Pelacur Kota

Agung Kurniawan dalam Jakarta Biennale 2015: Pelacur-Pelacur Kota

Performans, 32 menit, 2015

Sabtu, 14 November 2015, 16.00-22.00
Di Gudang Sarinah, Jalan Pancoran Timur II no. 4, Jakarta Selatan

Pada akhir tahun 2015, Agung Kurniawan diundang untuk meramaikan perhelatan seni dua tahunan Jakarta Biennale 2015. Pada kesempatan ini Agung menyajikan sebuah karya performans intertekstual dan partisipatoris yang mengangkat fenomena moralitas dan seksualitas.
Jakarta Biennale 2015(2)

Sumber: https://indoartnow.com
Membaca ‘Bersatulah Para Pelacur Kota Jakarta’, puisi karya Rendra, adalah ziarah bagi Agung kurniawan. Ia serasa mengunjungi kembali Jakarta 1960-1970-an: klub malam bertebaran, juga hostes, lokalisasi, dan perjudian. Puisi Rendra dengan cermat melihat sekaligus secara getir mengkritik situasi saat itu.

Jakarta kini, menurut amatan Agung, adalah kota yang ditata dengan semangat para moralis. Tak lagi tersisa tempat bagi kecabulan dan tindakan ‘amoral’ sejenisnya, yang sesungguhnya hanya menyuburkan industri kecabulan lain secara masif di Internet.

Berbeda dengan industri kecabulan gaya lama yang eksploitatif terhadap perempuan, bagi Agung, industri sekarang ‘lebih humanis’. Para pelaku adalah pemuda-pemudi yang sadar akan modal yang mereka punya. Mereka profesional, menguasai alat produksi alias tubuhnya, dan tidak selalu bergantung pada pihak ketiga. Konsumen pun datang dari para pekerja profesional, pengusaha kaya, dan pembuat keputusan penting di negeri ini. Mereka layaknya pelumas bagi Jakarta yang sibuk. Tanpa mereka, mesin bernama Jakarta akan lumpuh. Puisi Rendra tetiba menemukan kembali konteksnya.
Jakarta Biennale 2015(1)

Sumber: https://indoartnow.com

Jakarta Biennale 2015

Sumber foto: Laman Facebook Jakarta Biennale, foto oleh @jinpanji

Pada proyek pertunjukannya, Agung membagikan puisi Rendra kepada enam aktor, yang akan bergantian membacanya dalam enam bahasa: Cina, Arab, Inggris, Jawa, Indonesia, dan binan—bahasa pergaulan yang populer di kalangan LGBT. Agung percaya, teks bernilai abadi dan bisa melintasi zaman. Melalui pertunjukan ini, Agung membuka kemungkinan bagi keterlibatan banyak orang, termasuk penonton, sebagai bagian dari pertunjukan. (Sita Sarit)

Sumber: jakartabiennale.net/agung-kurniawan/

About kedai kebun

Check Also

Performa Otomat

Pergeseran medium dari gambar ke performans dalam karya Agung, meskipun telah terasa semenjak tahun 2009, …

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *