“HOW ARE YOU TODAY?”
By kedaikebun • Sep 25th, 2009 • Category: BeritaSigit Pius & Eddi Prabandono
dalam
“SIRKUS PENGANTIN”
Performance art yang mereka inisiasi pada 20 Desember 2006 - 15 Januari 2007
Seni Rupa Peformatif dari Jalan ke Ruang Privat
Oleh: Agung Kurniawan
Media ini mencapai puncak perkembangannya di akhir tahun 90 an. Bisa jadi karena dorongan dari situasai politik yang berubah sehingga tercipta ruang-ruang “bebas” yang tidak tersedia di era sebelumnya. Era Fasisme Suharto tidak menyediakan ruang yang itu, akan tetapi toh media ini tetap berkembang dan kemudian mencapai puncaknya di akhir 90-an hingga awal 2000-an. Media ini menggunakan tubuh sebagai bagian dari bahasa rupanya. Tubuh adalah media murah dan gratis yang dapat dieksplorasi dengan mudah. Selain itu media ini menawarkan alternatif ruang penyajian; jalan, dan berbagai ruang publik lainnya. Ruang ini yang tidak mungkin diambil oleh seni yang sangat mapan dan hegemonik; seni lukis di atas kanvas.
Dalam perkembangannya media ini menjadi sangat populer terutama di kalangan para aktivis demonstran. Mereka menggunakannya pada setiap aktivitas demo yang mereka lakukan, sehingga timbul semacam cap; gak afdol kalau demo tanpa happening. Para pelaku aktif dikalangan para seniman kemudian mulai mengambil jarak. Bisa jadi mereka perlu ruang yang sedikit privat untuk mengelaborasi media ini secara lebih kuat. Penggunaan media ini di jalan sebagai bagian dari sebuah demo, bisa jadi, telah membunuh media ini semata-mata hanya sebagai megaphone aktivisme tanpa perenungan sama sekali.
Eksodus dari jalan ke ruang privat (galeri atau ruang pertunjukan khusus), menghasilkan sebuah bahasa yang lebih personal. Tidak adanya sensor di ruang privat membuat tubuh dapat dieksplorasi secara lebih kuat. Para seniman tidak lagi berteriak tentang hak asasi manusia dan penindasan oleh angkatan darat, akan tetapi juga tentang kesepian, keputusasaan, skeptisme dan perkara yang lebih pribadi lainnya. Jalan dan ruang ternyata menghasilkan bentuk yang berbeda.
Ritus Pengantin, seni rupa peformatif dari Sigit pius dan Eddi Prabandono (KKF, 2006) kurang lebih lahir dari situasi jaman seperti itu. Mereka membelah sebuah kepala yang terbuat dari campuran pudding dan macam-macam jenis bahan makanan. Sebelumnya makanan itu dibekukan dalam lemari pendingin. Beku menyatukan berbagai bahan itu. Setelah dibelah, sebagian diserut dengan mesin gosrok es balok, bahan-bahan itu mereka masak sebagai sup dan dibagikan kepada seluruh pengunjung .
Jenuh dengan hingar bingar jalan, seni mereka di pertunjukkan di dalam ruang pamer KKF. Ritus Pengantin adalah sebuah seni rupa peformatif dengan mengambil sudut pandang tubuh yang menjadi. Sebuah persoalan identitas di tengah situasi yang homogen. Mereka melihat identitas yang berubah atau yang diubah dalam konteks sebuah perkawinan. Perkawinan adalah peleburan dua hal berbeda dalam satu tubuh, seringkali itu bukan hal mudah. Mereka mengunakan perkawinan sebagai sebuah simbol kegamangan identitas.
Menikah membuatmu menjadi orang yang berbeda, dari situ persoalan itu bisa dibawa kemanapun.
BERITA TENTANG SIGIT PIUS
Setelah sekian tahun lebih banyak sendiri, akhir-akhir ini saya kembali beraktivitas dengan anak-anak. Bersama teman-teman yang lain saat ini saya sedang menyiapkan ‘BIENNALE Anak’ yang insyaallah akan digelar bulan Januari 2010. Dalam BIENNALE anak ini nanti selain workshop dan pameran karya anak yang menjadi menu utama, saya dan teman-teman juga mendisain satu pasar kreatif anak bernama ‘DOLDOLANAN’ yang merupakan bentuk lain dari GEDEBOOK!!! yang pernah saya dan teman-teman lain rancang beberapa tahun lalu. Senang rasanya ada event semacam ini, menambah semangat!!!!
BERITA TENTANG EDDI PRABANDONO
Lahir di pati 8 juli 1964, Belajar di fakultas senirupa ISI yogyakarta jurusan grafis murni 1992 - 1998. Pada tahun 1998 mengikuti program 98 Nagasawa Art Park Artist and Residence dari The Japan Foundation.
Hampir kebanyakan karya saya adalah karya 3D (Instalasi). Pada tahun 1995 saya mulai tertarik menggunakan bahan - bahan organik untuk karya - karya instalasi saya yang berupa biji-bijian, khususnya biji padi yang saya tanam sampai tumbuh menghijau. Selama setahun ini Saya banyak berkarya dengan tanah liat dengan ukuran besar yang berbentuk manusia atau juga binatang yang saya tanami tanaman padi, dengan proses pengerjaannya langsung di gallery.
Tahun 2006 Saya berkolaborasi dengan perupa Pius Sigit Kuncoro, dimana kami pameran berdua dan Performance di KKF, berjudul SIRKUS PENGANTIN.
Tahun 2009 saya mendapatkan grant sebagai Winner Of A 2009/2010 Asian Artist Fellowship, Sponsored by The Freeman Foundation For The Vermont Studio Center, Johnson, Vermont, USA yang akan berlangsung nanti Januari 31 - 26 Maret 2010.
kedaikebun is
Email this author | All posts by kedaikebun



