Joned Suryatmoko
By kedaikebun • Sep 5th, 2008 • Category: TokohTEATER ORANG BIASA DAN FESTIVAL KESENIAN YOGYAKARTA
Ide awal dari teater ini adalah dari pertunjukan Waria on Stage pada Festival Kesenian Yogyakarta XIX. Pertunjukkan, waktu itu, berlangsung dengan sangat meriah. Ribuan penonton menyemut di depan panggung dan puluhan waria duduk menunggu untuk tampil dengan berjejer di samping panggung bagai kotak sereal di supermarket. Kami terpukau oleh kemampuan para waria itu untuk “berakting” secara sangat alamiah. Mereka adalah lempung siap diolah, yang dibutuhkan adalah seorang sutradara ber-usus panjang dan tahu risiko bekerja dengan para “amatir” itu.
Kami sadar bekerja dengan kaum amatir itu mengandung resiko besar. Salah satunya adalah kegagalan secara artistik sebagai dampak dari keberhasilan dari sisi konseptual. Untuk itu, pemilihan sutradara menjadi isu yang penting. Dan kami memilih Joned Suryatmoko adalah –lepas dari kerewelan-kerewelannya yang khas seniman—dia, dengan pengalaman bergaul bersama bahan mentah teater yang beragam, merupakan figur yang sesuai dengan konsep teater dalam rangka FKY XX kali ini. Harapan kami dialah yang akan membuat sisi artistik dari teater ini tetap terjaga. Setidaknya, supaya teater ini tidak terjatuh dalam “kubangan” teater penyadaran yang “benar-konsep”-nya tapi lemah artistiknya.
Teater ini tidak berpretensi untuk menjadi sebuah teater penyadaran. Bagi kami, para waria itu adalah aktor-aktris yang profesional, mereka berakting setiap malam dan bisa jadi aktingnya berhasil “menipu” banyak orang atau setidak-tidaknya para lelaki hidung belang yang kedinginan. Jika bekerja dengan seniman amatir yang profesional maka bisa diharapkan akan lahir sebuah pertunjukkan yang membuat Nyoto bangkit dari kuburnya dan menangis haru karena ide besar artistik dan benar konsepnya; akhirnya terwujud meskipun tertunda 40 tahun kemudian.
Teater orang biasa adalah konsep yang dipakai untuk pertunjukan ini. Karena itu pertunjukan ini menggunakan para waria yang sehari-hari bekerja sebagai pekerja seks komersial, aktivis LSM, atau pengusaha salon sebagai aktornya. Sebagian besar waria dalam audisi yang kami adakan mengatakan belum pernah berakting secara profesional. Untuk keperluan itulah maka sang sutradara menyiapkan serangkaian tata cara khusus, mulai dari latihan vokal sampai penerapan disiplin “fasis nan humanis”. Mirip biara, hanya saja orang masih bisa tertawa dan merokok. Selain itu, teater ini mengangkat memori atau ingatan –ingatan akan tubuh laki-laki yang telah jadi bagian dari sejarah para waria– kaum waria sebagai benang merah yang mengait pada tema utama Fesival Kesenian Yogyakarta XX yaitu The Past is New; Masa Lalu Selalu Baru.
FKY XX kali ini berbeda dengan FKY sebelumnya. Perbedaan itu salah satunya terletak pada model pendekatan dalam penciptaan karya seninya. Selama ini FKY selalu diisi oleh seniman: dari seniman, oleh seniman, dan untuk seniman, pada FKY XX dipakai pendekatan festival seni bagi orang biasa. Sehingga, hampir sebagian besar program melibatkan kalangan nonseniman sebagai pelaku utamanya. Mengubah paradigma ini adalah salah satu cara untuk membuat sebuah festival seperti FKY mampu kembali memperoleh gaungnya. Setelah terjebak dalam rutinitas proyek maka sudah saatnyalah FKY disegarkan dengan cara berbeda. Mengajak masyarakat terlibat sebagai pelaku utama dalam sebuah festival seni, dan waria adalah bagian dari masyarakat itu.
Sebagai penutup dari pengatar singkat ini bolehlah saya mewakili panitia FKY XX mengucapkan terima kasih atas kerja sama luar biasa yang ditunjukkan oleh teman-teman waria. Ketekunan mereka berlatih layaknya seorang profesional menunjukan bahwa mereka adalah orang-orang luar biasa yang seharusnyalah mendapat apresiasi. Selain itu, juga kepada pelatih vokal, pengkritik naskah, dan juga penulis naskah yang membantu mimpi panitia terwujud. Kepada kru yang bekerja beratus-ratus jam dengan gaji di bawah standar, dan juga kepada penonton yang telah meluangkan waktunya untuk menonton teater orang biasa ini. Dan juga kepada venue dan stake holder festival yang mau mendengar dengan sabar ide-ide besar dan kadang tidak masuk akal dari kami.
Hanya Tuhan yang bisa membalas semua kebaikan itu.
Agung Kurniawan
Direktur Artistik KKF / Direktur Artistik FKY XX 2008
(Tulisan ini adalah pengantar dari Direktur Artistik FKY XX 2008 untuk katalog “Deleilah, tak Ingin Pulang dari Pesta”)
JONED SURYATMOKO (Sutradara)
Mulai berteater sejak di SMA Seminari Mertoyudan Magelang. Lahir di Solo, 21 Maret 1976, ia mulai pindah ke Yogya tahun 1995 saat kuliah. Begabung dengan Institut Teater Rakyat Yogyakarta/ ITRY (1995-1999) dan Teater Garasi (1996-1998). Selanjutnya mendirikan Teater Gardanalla (d/h Kelompok Trotjoh) bersama beberapa teman, dimana ia menjadi Manager Produksi Artistiknya hingga sekarang.
Alumnus Jurusan Ilmu Hubungan Internasional FISIPOL UGM ini pernah jadi wartawan dan dosen public relations. Sejak tahun 2003 bekerja sebagai konsultan pada beberapa lembaga internasional seperti GTZ- Kerja Sama Teknis Jerman –Indonesia, ASB Arbeiter Samariter Bund Jerman, dan IRD International Relief and Development.
Kerja penyutradaraan dilakukannya bersamaan dengan kerja menulis fiksi dan buku popular, serta berjalan-jalan dengan Brenda von Anna Bella (2,5 tahun) & Elantra von Paris (7 bulan), dua anjing golden retriever kesayangannya. Terlibat dalam beberapa forum internasional seperti British Council Performing Arts Management Seminar di London, Inggris (2004), Kelola-Asialink International Residency di Melbourne dan Sydney, Australia (2004-2005) dan Monsoon Research Platform: pertemuan 11 seniman lintas disiplin Asia-Eropa di Seoul, Korea Selatan (2006).
kedaikebun is
Email this author | All posts by kedaikebun



